Peta Politik Pra-Pilgub Jatim 2008

Judul headline Kompas edisi Jawa Timur beberapa waktu lalu cukup mengejutkan. Di situ tertulis, Sulit, Pilih Gubernur Berkualitas. Menurut penulis, hal itu mengejutkan karena pendapat itu bertentangan dengan semangat pemilihan kepala daerah langsung.

Namun, pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Pemilihan kepala daerah (pilkada) yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selama ini terbukti tidak bisa menghasilkan kepala daerah yang berkualitas. Ini disebabkan adanya indikasi selingkuh politik antara kandidat dan anggota DPRD yang diwujudkan dalam money politic.

Oleh karena itu, pemilihan langsung pun dipilih guna meminimalkan ekses sekaligus mendapatkan kepala daerah yang benar- benar pilihan rakyat. Akan tetapi, masalah berkualitas atau tidaknya kepala daerah yang terpilih tak lepas dari situasi masyarakat, di mana partai politik sebagai institusi politik punya andil cukup besar di dalamnya.

Mulai menghangat

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim baru akan berlangsung pada tahun 2008. Namun, wacana dan gerakan politik seputar pilgub sudah mulai bergulir dan terus menghangat. Menurut aturan, yang bisa memajukan calon adalah partai atau gabungan partai yang mendapat kursi minimal 15 persen atau yang menda- pat akumulasi suara minimal 15 persen.

Jika begitu, ada tiga partai yang bisa mengusung kandidatnya sendiri, yaitu PKB, PDI-P, dan Partai Golkar. Adapun partai-partai lain harus berkoalisi agar bisa ikut meramaikan bursa Pilgub Jatim.

Partai Golkar tampaknya sudah cukup bulat untuk mengajukan Soenarjo, Ketua DPD Partai Golkar Jatim sekaligus incumbent Wakil Gubernur Jatim, sebagai calon Gubernur Jatim 2008-2013. Sementara PKB dan PDI-P masih menyimpan rahasia tentang siapa kandidat yang akan diajukannya.

Di sisi lain, beberapa nama yang diprediksikan akan maju sebagai kandidat calon Gubernur Jatim sudah mulai bermunculan. Soekarwo (Sekretaris Daerah Provinsi Jatim), Soetjipto (Ketua PDI-P Jatim), dan Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group) adalah beberapa nama yang sering disebut bakal meramaikan Pilgub Jatim 2008. Namun, belum jelas partai mana yang akan mengusung mereka.


Figur kandidat

Di era pemilihan langsung diyakini ada kekuatan lain selain mesin partai politik yang punya andil besar dalam memengaruhi keputusan akhir di dalam bilik suara, yaitu kekuatan figur/citra kandidat. Kekuatan ini terkait erat dengan masalah popularitas kandidat.

Bisa saja seorang kandidat yang diusung partai politik yang memperoleh suara terbanyak kalah karena dia tidak cukup populer dalam masyarakat. Atau kalau toh dia populer, dia populer karena isu yang buruk.

Atas dasar itulah, timbul asumsi bahwa dalam model pemilihan langsung kekuatan figur (citra kandidat) punya pengaruh yang lebih dahsyat bahkan mengalahkan kekuatan mesin politik (konstituen partai). Akan tetapi, belajar dari dua kali pilpres langsung di Jatim, asumsi itu rupanya tidak sepenuhnya terbukti. Keberhasilan Yudhoyono-Kalla yang memenangi dua kali pilpres di Jatim tidak terlepas dari keberhasilan mereka memanfaatkan kendaraan partai politik yang ada.

Pada pilpres 1, misalnya, suara PKB (dan juga Partai Golkar) di Jatim cenderung "lari" dari pasangan Wiranto-Wahid yang notabene kandidat yang diusung dari Partai Golkar dan PKB. Perolehan suara pasangan calon ini tidak signifikan dengan total suara yang diperoleh kedua partai pengusungnya pada Pemilu 2004.

Andai saja konstituen kedua partai itu cukup loyal dan konsisten pada keputusan partainya, seharusnya pasangan ini mendapatkan sekitar 9 juta suara di Jatim. Realitasnya, mereka hanya memperoleh 5 juta suara.

Suara pemilih Partai Golkar dan PKB lebih banyak "lari" ke pasangan Yudhoyono-Kalla. Alasannya, Kalla punya pengaruh yang cukup besar dalam Partai Golkar, sedangkan Yudhoyono sendiri telah mendapat restu dari Gus Dur, Ketua Dewan Syuro PKB.

Kecenderungan itu diperkuat dari hasil pilpres II, di mana suara Yudhoyono-Kalla melonjak sekitar 5 juta suara. Bisa jadi, suara ini kebanyakan berasal dari massa PKB dan Partai Golkar yang pemilih Wiranto-Wahid pada putaran 1.

Dari analisis sekilas tersebut, bisa dikatakan kekuatan figur kandidat harus tetap didukung oleh kekuatan dahsyat dari mesin partai politik. Keduanya tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Oleh karenanya, peran mesin partai harus terus dimainkan, selain membangun popularitas kandidat yang juga tak kalah pentingnya. Pada sisi lain, berkualitas atau tidaknya gubernur nanti juga merupakan tanggungjawab seluruh elemen masyarakat Jatim yang mempunyai hak untuk menentukannya. Grafis: 1 Perolehan Suara dan Kursi DPRD Jawa Timur Grafis: 2 Perolehan Suara Pemilihan Presiden 2004 di Jawa Timur
.

0 komentar:

Posting Komentar