This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Nasrudin dan Tiga Orang Bijak

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.

Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, "Di mana sebenarnya pusat bumi ini?"
Nasrudin menjawab, "Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara."
"Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?" tanya orang bijak pertama tadi.
"Kalau tidak percaya," jawab Nasrudin, "Ukur saja sendiri."
Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.

Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. "Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?"
Nasrudin menjawab, "Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini."
"Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?"
Nasrudin menjawab, "Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya."
"Itu sih bicara goblok-goblokan," tanya orang bijak kedua, "Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai."
Nasrudin pun menjawab, "Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?"
Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.

Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya, "Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu." "Saya tahu jumlahnya," jawab Nasrudin, "Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara."
"Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?" tanyanya lagi. "Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru."

Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut.

Kisah Cinta yang Menyakitkan

Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman. Siti menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Imam . Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri.

TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Imam tidak merasakan hal yang sama,takut kalau Imam tidak menerimanya sebagai temannya lagi,takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Imam dan dengan harapan, bahwa Imam lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Siti.

Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Imam dan Siti pergi ke arah yang berlainan. Imam melanjutkan studinya ke keluar negeri,sedangkan Siti mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat,saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Siti merindukan Imam akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Imam bagaimana perasaan cintanya, jika Imam kembali.

Dan tiba-tiba, surat dari Imam terhenti. Siti menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban.

di mana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Siti tetap berharap bahwa Imam akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat.Dan doanya terkabul.

Dia menerima surat dari Imam , mengatakan…! ” Siti, aku punya kejutan untukmu…temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Imam”

Siti berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.

Ketika harinya telah tiba, Siti menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Imam kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Imam . Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.

Dia begitu perhatian melihat Siti, “Hai! Aku Angie, temannya Imam.Kamu Siti?” tanyanya. Siti menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Imam tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi,” kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Siti.

Siti tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Siti bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. “di mana Imam ? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Siti memohon kepada si wanita.

Si wanita melihat dengan cermat ke Siti dan dia menepuk pundak Siti dan mengatakan, “ALAMAK SITI… INI IKE IMAM…APAKAH IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH….AIH……YEY NGGAK BISA NGENALIN IKE LAGI YAH??? IHHH…SEBEL DEH…..!!!”

Dan kemudian Siti langsung pingsan…

Foto Bersama Untuk Kenangan Masa Sekolah

Suatu hari sebuah kelas berfoto bersama. Setelah foto jadi, Bu Guru membujuk anak-anak untuk membeli, tiap orang satu foto. Ia pun berkata kepada murid-muridnya, “Kalian seharusnya membeli foto ini, mumpung semua teman kalian di sini lengkap terkumpul. Foto ini akan memberikan kenangan yang manis. Suatu hari nanti ketika kalian sudah besar-besar dan melihat foto ini, saya yakin kalian pasti akan senang.”

Tak seorangpun berkata-kata, lalu Bu Guru melanjutkan, “Coba bayangkan, nanti kalian akan melihat foto ini dan berkata, “Oh ini si Tina, sekarang jadi dokter. Ini Totok, sekarang jadi pejabat, ini Tari yang sekarang jadi artis, ini…”

Seorang murid lelaki di belakang menyela, “Yang ini Bu Guru, sekarang sudah meninggal…”

Memecahkan Jendela dengan Bola

Ada seorang anak yang sedang bermain bola sendirian. Ia menendang bolanya terlalu keras dan memecahkan kaca rumah seorang wanita. Anak itu pun langsung berlari ketika wanita itu keluar dan meneriakinya. Si anak pun berpikir untuk kembali. Ia ingin agar bolanya dapat diambil lagi. Ia lalu berpikir cara apa yang dapat dilakukan.

Beberapa saat, anak itu pun mengetuk rumah wanita tadi dan berkata pada wanita tersebut, “Ayahku akan datang dan membetulkan jendela tersebut.”

Dan memang datanglah pria dengan kotak perkakas dan berkata pada wanita tersebut, “Permisi. Saya mau membetulkan jendela anda…”

Wanita itu pun mempersilahkan pria tersebut masuk untuk membetulkan jendelanya. Selagi pria itu membetulkan jendela, anak tadi meminta bolanya kembali. Wanita itu pun memberikan sambil berpesan agar lain kali hati-hati. Anak itu pun pulang.

Setelah selesai membetulkan jendela, sang pria tadi langsung memberikan tagihan kepada wanita tersebut. Wanita itupun kaget dan berkata, “Bukankah anda ayahnya?”

Si pria pun berkata, “Lho, bukankah anda ibunya?”

PARA JAHANAM!

Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata

Para Pelaku:
JOHARI (suami)
TUMIYAH (istri)
ROS (anak perempuan)
UJANG (anak laki-laki)

Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.

Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!

I
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paroh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Johari namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.

Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.

JOHARI:
Merah delima?
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja?
Tum! Kau dengar aku Tum?
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)

II
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.

TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!

JOHARI:
Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan disini?
TUMIYAH:
Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal. Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain meramal syair-syair sialanmu itu?

JOHARI:
Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini

TUMIYAH:
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!

JOHARI:
Alah! Kau tahu apa tentang merah delima?
(Johari melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)

III
Ketika Johari asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang, pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.

JOHARI:
He, anak jadah! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)

TUMIYAH:
Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)

TUMIYAH:
Pak tua, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!

JOHARI:
Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.

TUMIYAH:
Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan

JOHARI:
Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…

TUMIYAH:
Alah sudah! Dasar pembual!

(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta)

TUMIYAH:
Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak tua?

JOHARI:
Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!

TUMIYAH:
Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak becus!

JOHARI:
Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon

TUMIYAH:
Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.
(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)

IV
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ros—anak gadisnya—muncul, Ros datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Johari jadi iri dan lapar. Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana.

JOHARI:
Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu

ROS:
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)

JOHARI:
Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?

ROS:
Enak saja, bang Nasrul yang kasih aku lima ribu

JOHARI:
Nasrul? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Nasrul. Nasrul senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa

ROS:
Nggak! Pergi saja sendiri
(Ros kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)

JOHARI:
Keparat! Awas kamu Ros, aku doakan kau nyahok dengan Nasrul!
(Pak Johari pun pergi keluar rumah)

V
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. Kecuali Pak Johari yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.

Pukul sebelas malam, pak Johari baru pulang. Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya menceracau-ceracau tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.

JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..

(Mulut Johari terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…)

EPISODE DAUN KERING

Sebuah drama monolog oleh Zulfikri Sasma

ADAPTASI DARI CERPEN KARYA LARSI DE ISRAL





Panggung adalah ruangan kosong yang hanya di isi oleh sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Lampu panggung tampak temaram. Sarjun, seorang lelaki muda (kira-kira berusia 24 tahun) dengan menyandang sebuah ransel di punggungnya, tampak melangkah lemas memasuki panggung. Ribuan rasa kecewa menghias di wajahnya. Lelaki itu kemudian duduk di atas bangku dan menaruh ransel di sampingnya. Ia tertunduk lesu dan kemudian mengangkat wajahnya.



SARJUN

Saudara-saudara, sampai hari ini, saya masih mempercayai Tuhan dengan segala skenario-Nya. Pergantian siang dan malam. Kehidupan dan kematian. Untung dan rugi. Marah dan cinta. Di dalam semua itu kita melingkar, menjalar bahkan kadang terpaku tanpa daya. Beragam kisah dilakoni dengan bermacam rasa yang terkadang menjelma benang kusut. Dibutuhkan kesabaran untuk mengurainya. Dan, manakala kesabaran yang kita miliki kian menipis atau sama sekali sirna, adakah orang lain akan datang menawarkan pertolongan? Memberi kesejukan pada pikiran dan perasaan seperti benang kusut?

Teramat berat bagi saya untuk berbagi kisah ini.

Kisah yang saya sebut sebagai episode daun kering!



Sarjun tertunduk, kecewa berkecamuk di dadanya. Tak lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan melanjutkan ucapannya.



SARJUN

Bukan! Bukan karena menyangkut sisi hidup saya yang gelap, bukan saudara-saudara! Akan tetapi, hal ini melibatkan keluarga saya yang tinggal dua orang: Papa dan Alpin, adik saya…



Sarjun merubah posisi duduknya, memandang langit, tatapannya kosong.



SARJUN

Sejak kematian ibu, saya melanjutkan kuliah di Padang sedang Alpin kuliah di Medan. Sejak itulah Papa tinggal sendiri di Payakumbuh. Saya mengerti benar makna kesepian bagi orang seusia Papa. Karena itu saya mengunjunginya tiap bulan. Alpin pun saya kira begitu. Namun karena Medan dan Payakumbuh terbentang jarak yang tidak dekat, maka ia hanya pulang tiap liburan semester.

Tetapi saudara-saudara, kepulangan saya kali ini, sungguh-sungguh membuat saya hampir putus asa! Betapa tidak? Baru saja saya sampai di teras depan rumah, tiba-tiba saya mendengar teriakan “tidak” yang sangat begitu keras. Saya yakin, itu adalah suara Papa. Saya jadi tertegun mendengarnya, lalu mengintipnya lewat lubang kunci.



Sarjun beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan melangkah ke depan panggung sambil tersenyum mengejek



SARJUN

Saudara-saudara, saudara-saudara tahu apa yang saya lihat? Sungguh di luar dugaan, saya menyaksikan Papa berdiri disamping meja telepon dengan kepala tertunduk dan wajah kuyu! Sempoyongan ia menuju sofa. Kecewa, marah, sedih dan entah makna apa lagi yang dapat dibaca dari raut wajahnya.



Kesal, lelaki itu kembali duduk di bangku



SARJUN

Heran, tidak mungkin Papa begitu! Tidak mungkin! Papa saya bukan lelaki yang rapuh. Ia lelaki paling tegar yang pernah saya kenal. Ia cerdas meski terkadang sangat egois. Masih terlalu jelas dalam ingatan saya ketika ia memutuskan berburu babi sebagai olahraga pengisi kesendiriannya.



Sarjun kembali menatap langit. Kali ini tatapannya tajam.

SARJUN

Waktu itu papa duduk di sofa. Ia membaca Koran, kelihatan santai, saya datang dan mengambil tempat di sofa lain.



SARJUN

Oke! Silahkan Papa buru babi. Tapi, membeli anjing? Apalagi seharga dua juta lebih? Saya tidak setuju! Itu haram, Pa!

PAPA

Hehehehe… jika tidak dibeli Papa dapat anjing dari mana? Mana ada anjing kurap yang bisa buru babi? Atau anjing jadi yang dibagi-bagi secara gratis? Nak, membeli anjing itu tidak apa-apa asal tujuannya baik. Nah, menyelamatkan tanaman petani dari hama babi kan perbuatan mulia? Banyangkan babi-babi yang temok itu diburu dengan anjing kurap, heh, heh… ia akan tetap merdeka melahap tanaman petani. Dan, petani tidak akan makan, kamu rela petani mati kelaparan?

SARJUN

Tapi Tuhan tidak pernah menghalalkan sesuatu dari yang haram

PAPA

Bukan Tuhan namanya kalau sekaku itu. Bukankah kamu sering bilang: adh-dharuratu tunbihul mahzhurat?

SARJUN

Apakah kondisi seperti itu sudah darurat?

PAPA

Menurutmu, keselamatan manusia bukan ukuran darurat?

SARJUN

Anjing adalah anjing. Babi adalah babi. Najis tetap najis dan haram tetap haram!

PAPA

Tuhan itu cerdas, nak. Ia tidak akan ciptakan tanah kalau memang kita dilarang menyentuh benda bernajis. Hehehehe…



Kesal Sarjun seperti memuncak. Ia berdiri dan melangkah menuju belakang bangku



SARJUN

Bah! Banyak sekali alasan Papa untuk membenarkan keinginan dan perbuatannya.



Sarjun menggeleng-gelengkan kepalanya



SARJUN

Nah, saudara-saudara, bukankah apa yang saya saksikan di rumah tadi tidak masuk akal?

Seseorang yang selama ini tegar tertunduk lesu dan kuyu? Ini tidak masuk akal!

Apalagi setelah itu saya lihat Papa menangis! Menangis? Papa menangis? Heh? Tiba-tiba saya dorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Papa terkejut melihat kedatangan saya. Segera Papa memburu saya. Lalu saya dipeluknya erat-erat. Begitu erat saudara-saudara!



Sarjun berhenti sejenak. Ia kembali duduk dan kemudian menunduk dengan kedua tangan menutup wajah. Keadaan jadi hening. Lama ia baru bersuara, tapi kali ini suaranya serak. Matanya kelihatan basah.



SARJUN

Dalam pelukan saya, tangis papa tiba-tiba tumpah. Saya jadi kikuk. Setelah agak lama, Papa saya ajak duduk. Papa masih menangis terisak-isak. Saya tinggalkan Papa di sofa, dan mengambil segelas air putih ke belakang.

Papa menangis? Sungguh tak masuk akal.



Sarjun diam sebentar, menghapus air mata yang menetes di pipinya. Berdiri lalu bergerak ke depan panggung.



SARJUN

Sampai malam itu, saya masih menganggap Papa sosok yang tegar, tidak rapuh apalagi cengeng. Saya punya banyak alasan untuk anggapan ini.

Pernah suatu ketika saya iseng-iseng mengikuti papa buru babi. Maksud saya untuk menemukan sebuah titik lemah sehingga Papa berhenti membeli anjing yang konon didatangkan dari Jawa. Tetapi yang saya temukan bukan titik lemah, melainkan noda hitam yang dicapkan kepada Papa. Ah, saya tidak tahu bagaimana mengatakan bagian ini. Papa ternyata seorang kriminal! Di hutan itu ia menanam ganja. Dan, buru babi rupanya hanya kedok buat mengelabui saya!

Ketika itu saya ingin lari ke tempat tak bernama dan entah dimana. Saya bingung. Tetapi darah muda saya berkata lain. Lawan! Ya, saya mesti melawan! Saya ambil beberapa helai daun jahanam yang tengah di jemur oleh anak buah Papa untuk saya linting. Saya kemudian mencari Papa.

Saya temukan Papa sedang merintih kesakitan, katanya diseruduk babi hutan. Ia hanya merintih, tidak menangis. Rasa iba tiba-tiba menjalar di dada saya, namun rasa benci telah meruang. Iba tiba-tiba tehalau oleh benci.

Seperti tidak tejadi apa-apa, saya menyalakan lintingan tadi, menghisapnya dalam-dalam dan menghempuskan asapnya ke arah Papa. Papa mencari-cari bau, lalu berdiri dan mengayunkan tamparan keras ke arah saya.

PAPA

Buang! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melainkan untuk anak-anak orang lain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!

SARJUN

Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang tidak memikirkan anak-anak orang lain. Aku bangga! Aku bangga Pa!



Sarjun kembali terdiam dan duduk di bangku kayu. Keadaan kembali hening.



SARJUN

Saudara-saudara, sekarang Papa menangis, terisak-isak. Betul-betul tidak masuk akal. Saya lalu menaruh segelas air putih di atas meja dan mempersilahkan Papa untuk meminumnya. Tetapi Papa tetap saja terisak-isak bersama tangisnya. Tiba-tiba, Papa menyebut-nyebut nama Alpin. Tentu saja saya terkesiap olehnya. Alpin? Ada apa dengan Alpin? Saya jadi bingung saudara-saudara! Heran!



Sarjun kembali menunduk, ia seperti menahan emosinya

SARJUN

Saudara-saudara, ternyata yang menyebabkan Papa saya menangis terisak-isak adalah karena Alpin. Alpin adik saya. Ia di tahan polisi. Alpin tertangkap basah menghisap daun jahanam itu. Daun yang ditanam orang lain yang tidak rela anaknya menghisap ganja!

Mendengar itu saya betul-betul kesal! Saat itu juga, saya ambil ransel dan segera melangkah menuju pintu. Waktu itu saya dengar suara papa memanggil nama saya, tapi tak lagi saya hiraukan. Saya muak! Sungguh-sungguh muak!



Sarjun makin menunduk, emosinya betul-betul memuncak, setelah merasa reda, barulah ia angkat kepalanya



SARJUN

Begitulah saudara-saudara, saya terpaksa kembali ke Padang malam itu juga. Saya tak sanggup menghadapi kenakalan orang tua seperti itu. Apalagi orang tua itu Papa saya sendiri. Telah saya putuskan untuk tidak menemui Papa lagi. Bahkan mungkin di hari pemakamannya kelak, saya takkan hadir. Saya tak bisa memberinya maaf. Saya tak bisa. Tetapi…hah…entahlah. Mungkin suatu ketika saya bisa. Mungkin… sebab, sampai saat ini saya masih mempercayai Tuhan dan segala skenariomya.



Sarjun berdiri, menyandang ranselnya kemudian berjalan keluar panggung. Bebannya berat.

PPP Menunggu ‘’Bola Liar’’, Golkar Cari Cawagub Loyal

Beberapa partai yang belum menentukan dukungannya saat ini bisa menjadi faktor penentu kemenangan dalam Pilkada NTB 2008. Partai-partai yang belum menetapkan dukungannya atau yang disebut ‘’bola liar’’ bisa saja ‘’hinggap’’ dikoalisi yang kini digalang PPP dengan PKB.

‘’Bisa saja ‘’bola-bola liar’’ ini hinggap ke kita. Secara person kami pernah lakukan komunikasi,’’ ujar Sekretaris DPW PPP NTB, Dra. Hj. Wartiah M.Pd, kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (28/2) kemarin. Wartiah menyadari bahwa dalam politik semua peluang bisa saja diwujudkan menjadi kenyataan. Karenanya upaya komunikasi dengan partai-partai yang belum menentukan sikap terus dilakukan.

Menurut Wartiah, pihaknya saat ini belum bisa menentukan kepastian pelaksanaan deklarasi pasangan calon Dr. Zaini Arony, M.Pd dan Nurdin Ranggabarani, SH, MH. Pelaksanaan deklarasi ini harus menunggu hasil perundingan dengan PKB selaku mitra koalisi resmi dari PPP. ‘’Kita berharap deklarasi awal Maret,’’ ungkapnya.

Wartiah tak mempermasalahkan adanya keberatan soal pengumuman dukungan PPP yang disampaikan Ketua DPW PKB NTB, H. M. Ali Bin Dachlan, baru-baru ini. Menurutnya, hal itu adalah miskomunikasi dan telah diselesaikan. ‘’Itu miskomunikasi dengan timnya saja. Sudah clear,’’ tandasnya.

Menurutnya, hubungan dengan PKB tidak bermasalah. ‘’Kami tetap bersama dengan PKB. Sekarang tinggal menyusun format deklarasi,’’ tambahnya. Ia menjelaskan, di internal PPP, hingga jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi momentum Pilkada NTB 2008. Ia mengklaim saat ini seluruh mesin politik PPP sudah siap digerakkan untuk memenangkan pasangan Zaini-Nurdin yang mereka usung dalam Pilkada NTB mendatang.

Pasangan Zaini-Nurdin menurutnya, memiliki peluang besar untuk memenangkan Pilkada NTB. Keberadaan Zaini sebagai satu-satunya kandidat asal Lombok Barat (Lobar) dianggapnya akan memberikan keuntungan secara politis.

Naiknya Zaini sebagai satu-satunya kandidat asal Lobar, membuat peluang figur ini lebih besar dalam meraup suara besar di Lobar. Sementara, beberapa figur lain yang sudah hampir dipastikan tampil, Drs. H. L. Serinata dan TGKH. M. Zainul Majdi, MA, (Tuan Guru Bajang) menurutnya harus berbagi suara di daerah asalnya, Lombok Timur.

Harus Loyal dan Tahu Diri

Sementara, Partai Golkar tampaknya tak ingin mengulangi disharmoni antara Gubernur dan Wakil Gubernur yang mewarnai kepemimpinan Drs. H. L. Serinata di NTB. Karenanya, Partai Golkar menegaskan cawagub yang akan mendampingi Serinata dalam Pilkada NTB 2008 mendatang haruslah loyal dan tahu diri.

‘’Cawagub harus loyal dan bisa harmonis. Harus menerima bahwa dia adalah di bawah Gubernur,” tegas Plt. Ketua Tim Pilkada DPD Partai Golkar NTB, H. M. Tohri, AM, BA, S.Sos, kepada Suara NTB di kediamannya, Kamis (28/2) kemarin. Menurutnya, paling lambat 9 Maret 2008 nama-nama cawagub yang dinominasikan telah dikirim ke DPP Partai Golkar.

Tohri menjelaskan, pihaknya ingin menghindari terulangnya disharmoni antara kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam sistem pemerintahan NTB. Karenanya seperti diatur dalam Juklak 05, Partai Golkar sengaja memberi keleluasaan penuh kepada Serinata selaku Cagub NTB terpilih untuk menentukan nominasi nama-nama pendampingnya. ‘’Jelas harus tahu diri. Dia (kandidat cawagub) itu direkomendasikan oleh cagub. Itu harus disadari,’’ imbuh Tohri.

Dalam Juklak 05 diatur bahwa cagub terpilih dari Partai Golkar berhak merekomendasikan tiga hingga lima nama yang akan dijadikan pendampingnya. Nama-nama kandidat cawagub yang direkomendasikan cagub terpilih nantinya akan diserahkan pada Tim Pilkada DPD Partai Golkar NTB.

Setelah diproses oleh Tim Pilkada DPD Partai Golkar NTB, nama-nama yang masuk lantas diserahkan ke DPP Partai Golkar. Setelah itu, DPP akan menurunkan nama-nama tersebut untuk dipilih satu nama melalui Rapat Pengurus Harian DPD Partai Golkar NTB. Dalam rapat ini, Tohri mangatakan DPP Partai Golkar tidak terlibat seperti halnya konvensi.

Menurut Tohri, Partai Golkar memiliki beberapa pertimbangan dalam menentukan cawagub yang akan diusung. Hal-hal yang akan diperhatikan adalah faktor latar belakang etnis, popularitas, kekuatan atau dukungan massa yang dimiliki, partai pendukungnya, hingga kemampuan finansial yang dimiliki sang kandidat. ‘’Yang jelas harus dari Pulau Sumbawa,’’ tambahnya.

Partai Golkar memiliki peluang memperbesar koalisi melalui penentuan cawagub. Beberapa figur cawagub yang berpeluang menjadi pendamping Serinata adalah Sekretaris PDIP NTB, H. M. Husni Djibril, B.Sc dan Ketua PAN NTB, M. Jabir, SH.

Di internal Partai Golkar beberapa nama juga sempat muncul. Salah satu nama yang sempat dikabarkan menjadi figur cawagub ideal adalah Ketua DPD Partai Golkar Kota Bima, Ferry Zulkarnain, ST.
Tohri mengaku belum bisa memberi kepastian siapa-siapa nama yang telah direkomendasikan oleh Serinata. Menurutnya, hal itu menjadi kewenangan Serinata selaku Cagub NTB dari Partai Golkar. ‘’Apa dari kalangan sendiri atau dari koalisi, kita tunggu mana yang dinominasi oleh cagubnya,’’ pungkas Tohri.

Juara Olimpiade Fisika Asia Hijrah ke Singapura

Pekanbaru - Tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Riau, peraih medali emas Olimpiade Fisika tingkat Asia memilih pindah ke Singapura. Dikabarkan, perubahan statusnya sebagai warga negara Singapura juga tengah diurus.

Purnawirman merupakan salah satu murid berprestasi di Riau. Namanya mengharumkan bangsa Indonesia dalam Olimpiade Fisika tingkat Asia di Pekanbaru tahun 2004 silam. Dia menyabet medali emas.

Tak cuma itu, pada tahun 2005, Purnawirman kembali menggondol mendali perunggu dalam Olimpiade Fisika tingkat Internasional yang dilaksanakan di Spanyol. Atas prestasi gemilangnya, Pemerintah Provinsi Riau memberinya janji beasiswa menuju perguruan tinggi favorit.

Tapi, semua itu cuma janji belaka. Setelah tamat SMA I Pekanbaru tahun 2005 lalu, Purnawirman bersama orangtuanya dikabarkan menagih janji tersebut. Tapi, bolak-balik mengadu ke Pemprov Riau, mereka tidak mendapat tanggapan apa pun. Keberhasilannya mengharumkan nama bangsa ternyata tidak digubris.

Siapa yang tidak jengkel dengan sikap pemerintah yang acuh tak acuh ini. Walhasil Purnawirman mengambil sikap tegas dengan pindah ke Singapura. Kepindahannya ini dipicu karena sudah ada jaminan beasiswa dari Pemerintah Singapura.

Sekarang, Purnawirman tengah duduk di bangku kuliah di Nanyang Technological University Singapura. Pemerintah Singapura menanggung seluruh biaya pendidikan pemuda berotak encer ini. Tidak cuma jaminan beasiswa, malah Singapura menjamin masa depannya dengan memberikan pekerjaan yang layak buatnya. Siswa asal Riau yang berprestasi itu kini menjadi aset pemerintah Singapura.

Malah Pemerintah Singapura telah mengajak Purnawirman untuk menjadi warga negaranya. Dikabarkan, pemindahan menjadi warga negara Singapura itu masih dalam proses.


Malah Disalahkan

Anehnya, sikap Purnawirman yang pindah ke Singapura ini malah disalahkan oleh Pemprov Riau. Dia dituding tidak melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah atas kenginannya selama ini.

"Wartawan jangan tanya soal itu sajalah. Siswa itu tidak pernah melakukan koordinasi kepada kita, tentang apa yang dia inginkan. Kita ini cukup perhatian kok dengan siswa yang berprestasi," kata Gubernur Riau Rusli Zainal saat ditemui detikcom, usai acara menyambut kepulangan siswa asal Riau peraih mendali emas dalam Olimpiade Fisika di Singapura tahun 2006, Senin (24/7/2006) di Gubernuran Jl Diponegoro, Pekanbaru.

Tidak mau disalahkan begitu saja, Rusli Zainal sangat menyangkan sikap Purnawirman yang saat ini menjadi aset Singapura itu. Menurut Rusli, jika saja ada koordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal beasiswa, pihaknya akan menyediakannya. "Tapi kan dia memang tidak koordinasi dengan kita," sesal Rusli Zainal.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Moh Wardan, ketika diminta komentarnya, juga menyalahkan Purnawirman. Dia juga menuding siswa itu tidak pernah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan.

"Ya kalau dia mau pindah dan dibiayai pemerintah Singapura, itu kan hak dia dan kita tidak bisa melarangnya. Lagipula tidak cuma dia yang mendapat beasiswa dari negara asing. Banyak siswa Indonesia yang juga disekolahkan pihak asing," katanya enteng.

Lantas benarkah Purnawirman akan menjadi warga negara Singapura? Wardan belum dapat memastikan hal itu. "Saya belum tahu persis apakah dia akan pindah menjadi warga negara Singapura. Tapi menurut hemat saya, hal yang biasa seorang pelajar berprestasi dibiayai pemerintah asing," kata Wardan.

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mengganti Template Blogger

Blog adalah ibarat rumah kita, dan tentunya kita ingin blog tersebut tampil menjadil lebih cantik dan indah. Banyak cara yang dilakukan untuk membuat blog menjadi lebih cantik, diantaranya dengan menambah pernak pernik dan juga dengan mengganti tampilan/template blog. Jika kita mengganti template dengan template yang sudah disediakan blogger maka itu adalah cara yang paling mudah, tinggal pilih simpan langsung jadi. Namun template yang disediakan sangat sedikit dan tampilannya juga standar, sehingga kita seringkali mencari template lain yang lebih cantik, karena sekarang banyak sekali situs-situs yang menyediakannya dengan gratis. Namun jika kita menganti template dengan template lain yang disediakan oleh selain blogger, maka itu tidaklah semudah sebagaimana dengan menggunakan template yg disediakan blogger, karena ada beberapa efek sampingnya, diantaranya yaitu kamu akan kehilangan element2 kamu ato malah blog kamu jadi rusak. Nha berikut ini akan aku jelaskan hal-hal apa aja yang harus diperhatikan jika kamu pingin ganti template dengan jasa lain.

Pertama kamu harus membackup dulu tempalte kamu jika template baru kamu tidak berhasil diinstall, caranya masuk ke menu "Template --> Edit HTML", trus klik link bertuliskan "Download Full Template" terus simpan file yang diberikan.

Kedua yaitu membackup elemen-elemen atau widget-widget yang sudah pernah kamu pasang, caranya gini, Masuk ke menu "Page Element", nha disitu kan banyak tuh element-element yang udah kamu pasang trus dibawahnya kan ada link bertiliskan "edit" klik link-link tersebut satu persatu, copy isi dari elemen itu dan taruh dalam notepad. Kalo kamu nanti dah ganti template dan mau memasang elemen-elemen tersebut tinggal copy dari notepad terus pasang di "add page elements".

Ketiga, jika template dan elemen-elemen sudah kamu backup langkah selanjutnya yaitu mengupload template yang sudah kamu download. Biasanya file template yang di download berextenxi "xml" tapi kadang-kadang ada juga yang berekstensi "zip atau rar", kalo begitu kamu harus mengekstraknya dulu sehingga kamu akan mendapat file berekstensi "xml". Trus gini cara ngaploadnya, Kembali ke menu "Edit HTML", trus disitu kan ada tombol "brows" klik tombol tersebut terus cari file template yg pingin kamu pakai sudah kamu download, trus klik tombol :upload".

Keempat, biasanya kamu akan mendapat konfirmasi seperti gambar dibawah ini, itu artinya elemen-elemen kamu akan dihapus. Klik tombol "Confirm & Save"Kelima, jika ternyata yang muncul adalah seperti gambar dibawah ini maka itu artinya ada yang tidak beres dengan template kamu dan kamu tidak bisa memakai template tersebut di blog kamu, jadi kamu ganti aja dengan template yang lain.Keenam, coba preview blog baru kamu, merasa sudah cocok ikuti langkah ketuju. Jika kamu mendapati ada gambar header yang sebelumnya kamu pake buat header masih muncul di template baru kamu dan posisinya sepertinya tidak cocok, maka kamu harus menghilangkannya dulu gambar header tersebut, caranya masuk kembali ke menu "Page Element", dibagian header coba kemu edit dan hapus gambar kamu. Jika di bagian header tidak ada link "edit" coba kamu ganti dulu templatenya dengan template yang disediakan oleh blogger dan kembali ke "Page Element" trus "edit dibagian header dan hapus gambar header kamu kemudian ikuti lagi langkah-langkah ketiga

Ketuju, Kembalikan elemen-elemen yang sudah kamu backup tadi sehingga kini kamu memiliki template baru dan elemen-elemen yang dulu tidak ilang.

Peta Politik Pra-Pilgub Jatim 2008

Judul headline Kompas edisi Jawa Timur beberapa waktu lalu cukup mengejutkan. Di situ tertulis, Sulit, Pilih Gubernur Berkualitas. Menurut penulis, hal itu mengejutkan karena pendapat itu bertentangan dengan semangat pemilihan kepala daerah langsung.

Namun, pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Pemilihan kepala daerah (pilkada) yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) selama ini terbukti tidak bisa menghasilkan kepala daerah yang berkualitas. Ini disebabkan adanya indikasi selingkuh politik antara kandidat dan anggota DPRD yang diwujudkan dalam money politic.

Oleh karena itu, pemilihan langsung pun dipilih guna meminimalkan ekses sekaligus mendapatkan kepala daerah yang benar- benar pilihan rakyat. Akan tetapi, masalah berkualitas atau tidaknya kepala daerah yang terpilih tak lepas dari situasi masyarakat, di mana partai politik sebagai institusi politik punya andil cukup besar di dalamnya.

Mulai menghangat

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim baru akan berlangsung pada tahun 2008. Namun, wacana dan gerakan politik seputar pilgub sudah mulai bergulir dan terus menghangat. Menurut aturan, yang bisa memajukan calon adalah partai atau gabungan partai yang mendapat kursi minimal 15 persen atau yang menda- pat akumulasi suara minimal 15 persen.

Jika begitu, ada tiga partai yang bisa mengusung kandidatnya sendiri, yaitu PKB, PDI-P, dan Partai Golkar. Adapun partai-partai lain harus berkoalisi agar bisa ikut meramaikan bursa Pilgub Jatim.

Partai Golkar tampaknya sudah cukup bulat untuk mengajukan Soenarjo, Ketua DPD Partai Golkar Jatim sekaligus incumbent Wakil Gubernur Jatim, sebagai calon Gubernur Jatim 2008-2013. Sementara PKB dan PDI-P masih menyimpan rahasia tentang siapa kandidat yang akan diajukannya.

Di sisi lain, beberapa nama yang diprediksikan akan maju sebagai kandidat calon Gubernur Jatim sudah mulai bermunculan. Soekarwo (Sekretaris Daerah Provinsi Jatim), Soetjipto (Ketua PDI-P Jatim), dan Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group) adalah beberapa nama yang sering disebut bakal meramaikan Pilgub Jatim 2008. Namun, belum jelas partai mana yang akan mengusung mereka.


Figur kandidat

Di era pemilihan langsung diyakini ada kekuatan lain selain mesin partai politik yang punya andil besar dalam memengaruhi keputusan akhir di dalam bilik suara, yaitu kekuatan figur/citra kandidat. Kekuatan ini terkait erat dengan masalah popularitas kandidat.

Bisa saja seorang kandidat yang diusung partai politik yang memperoleh suara terbanyak kalah karena dia tidak cukup populer dalam masyarakat. Atau kalau toh dia populer, dia populer karena isu yang buruk.

Atas dasar itulah, timbul asumsi bahwa dalam model pemilihan langsung kekuatan figur (citra kandidat) punya pengaruh yang lebih dahsyat bahkan mengalahkan kekuatan mesin politik (konstituen partai). Akan tetapi, belajar dari dua kali pilpres langsung di Jatim, asumsi itu rupanya tidak sepenuhnya terbukti. Keberhasilan Yudhoyono-Kalla yang memenangi dua kali pilpres di Jatim tidak terlepas dari keberhasilan mereka memanfaatkan kendaraan partai politik yang ada.

Pada pilpres 1, misalnya, suara PKB (dan juga Partai Golkar) di Jatim cenderung "lari" dari pasangan Wiranto-Wahid yang notabene kandidat yang diusung dari Partai Golkar dan PKB. Perolehan suara pasangan calon ini tidak signifikan dengan total suara yang diperoleh kedua partai pengusungnya pada Pemilu 2004.

Andai saja konstituen kedua partai itu cukup loyal dan konsisten pada keputusan partainya, seharusnya pasangan ini mendapatkan sekitar 9 juta suara di Jatim. Realitasnya, mereka hanya memperoleh 5 juta suara.

Suara pemilih Partai Golkar dan PKB lebih banyak "lari" ke pasangan Yudhoyono-Kalla. Alasannya, Kalla punya pengaruh yang cukup besar dalam Partai Golkar, sedangkan Yudhoyono sendiri telah mendapat restu dari Gus Dur, Ketua Dewan Syuro PKB.

Kecenderungan itu diperkuat dari hasil pilpres II, di mana suara Yudhoyono-Kalla melonjak sekitar 5 juta suara. Bisa jadi, suara ini kebanyakan berasal dari massa PKB dan Partai Golkar yang pemilih Wiranto-Wahid pada putaran 1.

Dari analisis sekilas tersebut, bisa dikatakan kekuatan figur kandidat harus tetap didukung oleh kekuatan dahsyat dari mesin partai politik. Keduanya tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Oleh karenanya, peran mesin partai harus terus dimainkan, selain membangun popularitas kandidat yang juga tak kalah pentingnya. Pada sisi lain, berkualitas atau tidaknya gubernur nanti juga merupakan tanggungjawab seluruh elemen masyarakat Jatim yang mempunyai hak untuk menentukannya. Grafis: 1 Perolehan Suara dan Kursi DPRD Jawa Timur Grafis: 2 Perolehan Suara Pemilihan Presiden 2004 di Jawa Timur
.

Pendukung Pak Tjip Deklarasikan Dukungan

Surabaya- Keseriusan Wakil Ketua Bidang Pemerintahan Daerah Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, Sutjipto maju dalam pemilihan gubernur Jatim mendatang makin diperlihatkan. Gerakan mesin politik partai berlambang banteng moncong putih itu mulai diperlihatkan ke publik melalui acara 'Deklarasi Ir Soetjipto Sebagai Calon Gubernur Jatim 2008' di Hotel Hyatt Surabaya, Senin (2/10/2006). Dalam acara deklarasi ini, Ketua DPC PDI Perjuangan se-eks karesidenan Surabaya yang meliputi Surabaya, Gresik, Mojokerto (kota/kab), Jombang dan Sidoarjo menyatakan kesetiaannya mendukung Pak Tjip. "Kami tidak ingin dibohongi lagi, dulu gubernur bukan kader PDIP, setelah jadi, tidak perduli terhadap PDIP. Karena itu kami dukung kader sendiri," ujar Wahyudi Iswanto Ketua DPC PDIP Mojokerto dalam sambutannya. Tampak hadir dalam acara ini, diantaranya Walikota Surabaya Bambang DH yang juga sebagai Wakil Ketua PDIP Jatim serta tokoh PDIP lainnya.

Bara Politik Lokal di Lombok

Begitu banyak orang heran dengan Pulau Lombok. Dengan diameter sekitar 70 kilom


eter diukur dari Ampenan di sisi barat hingga ujung Kabupaten Lombok Timur, Pulau Lombok masih dianggap sulit menandingi Bali dari sisi pariwisata. Padahal, puluhan obyek wisata eksotik bersemayam di pulau yang memiliki tiga kabupaten dan satu k

ota ini. Mulai dari Senggigi dan Gili Trawangan yang kadung popular di Lombok Barat, hingga pantai Kuta dan Surga di kawasan Lombok Tengah, tak jauh dari Mataram.

Situasi keamanan dan politik lokal yang kerap memanas di Lombok, mungkin menjadi pemicu atensi wisatawan asing maupun domestik untuk berkunjung lebih lama di sini. Yang lebih menyedihkan, Lombok, khususnya Mataram sebagai magnet propinsi NTB, konon tak banyak berubah dalam kurun satu dekade terakhir. Malahan NTB juga digolongkan sebagai salah satu propinsi termiskin di republik ini. Masya Allah…! Padahal sumber daya alam maupun kualitas intelektual masyarakat NTB cukup mumpuni.

Medio Juni 2007 lalu, tepatnya tanggal 12 – 15 Juni, saya berkesempatan berkunjung ke Lombok. Masih tetap mengusung program Lokakarya Manajemen Pers bagi penerbit lokal, yang dihelat kantor saya, SPS Pusat bekerjasama dengan Dewan Pers. Tiga puluh peserta dari penerbitan pers cetak se-NTB kami undang pada forum yang berlokasi di hotel Lombok Raya, tak jauh dari kawasan Cakranegara.

Letak geografinya yang hanya berjarak tempuh lk 1 jam perjalanan feri dari pelabuhan Benoa, Bali, membuat sebagian komunitas Hindu menghuni kota Mataram dengan konsentrasi di sekitar Cakranegara. Sekujur mata memandang di sekitar kawasan ini, banyak dijumpai bangunan fisik bercorak arsitektur Bali dan Hindu. Meskipun demikian, secara mayoritas penduduk Lombok menganut Islam, dan nafas religi Islam sangat kental di Pulau ini. Tak heran jika muncul julukan Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid”. Lantaran hampir di setiap desa atau kalurahan terdapat sebuah masjid. Kabupaten Lombok Timur, misalnya, juga dikenal sebagai daerah yang memiliki pondek pesantren lumayan banyak. Kota tua Ampenan bikinan Belanda, yang didominasi bangunan gaya Belanda, menjadi ikon lain pulau Lombok.

Siang jelang sore waktu setempat, saya dan kawan-kawan dari kantor mendarat di bandara Selaparang, Ampenan. Usai memberesi bagasi, kami segera meluncur ke hotel Lombok Raya, dengan singgah sejenak di Cakranegara untuk mengisi perut, menyantap menu ayam Taliwang, salah satu makanan khas Lombok. Gurih dan sedap rasa ayam Taliwang segera menyergap selera kami untuk dilahap sampai tuntas.

Di Mataram, tak banyak media harian yang terbit. Hanya ada tiga harian yang selama ini konsisten melayani pembaca di kota ini maupun ke seluruh Lombok dan NTB. Pertama dan terbesar adalah Harian Lombok Pos, satu grup dengan Jawa Pos. Berikutnya, adalah harian NTB Pos dan belakangan lahir Harian Suara NTB yang masuk dalam kelompok Bali Post. Harian Bali Post sendiri juga masuk ke Mataram, meski saya yakin penetrasinya tidak terlalu besar. Sehingga pantaslah jika kini mereka menerbitkan koran harian berbasis di Mataram berlabel Suara NTB tadi.

Selebihnya di Mataram dan sekitarnya pasar pembaca diisi oleh suratkabar mingguan (SKM), tabloid mingguan, dan majalah bulanan. Sebangun dengan di daerah lain, pasar media cetak di NTB –sebagian diantaranya– masih banyak menggantungkan pada iklan dari pemerintah daerah setempat. Seperti iklan ucapan selamat, informasi lelang pengadaan barang, dan sponsor artikel.

Ketika saya berada di Mataram, muncul kabar santer bahwa pemerintah propinsi NTB baru saja mendistribusikan ”dana pembinaan bagi pers daerah” kepada puluhan penerbit se-NTB dengan nilai miliaran rupiah. Koran-koran seperti Lombok Pos dan NTB Pos tak ketinggalan ikut kecipratan rezeki nomplok tersebut. Saya sendiri tidak tahu apa maksud pemberian bantuan semacam itu. Jika arahnya adalah untuk kepentingan pemberdayaan penerbitan pers, semestinya dana itu lebih baik dimanfaatkan untuk program pendidikan bagi para wartawan dan tenaga pemasaran penerbitan pers setempat.

Yang menarik, situasi di Mataram khususnya dan NTB secara umum, belakangan ini semakin memanas seiring meningkatnya suhu politik menjelang Pilkadasung pada Juni 2008. Walau masih setahun lagi Pilkadasung propinsi akan digelar, ancang-ancang para kandidat sudah kian terlihat. Sekurangnya saya mencatat ada beberapa nama yang sedang bersiap dalam etape menuju kursi DR-1 (DR adalah kode nomor polisi Lombok) alias Gubernur NTB. Mereka adalah Lalu Serinata (Gubernur incumbent), Wagub NTB, Rektor Unram, Sekda Propinsi NTB, Tuan Guru Bajang (salah satu ulama tersohor di Lombok), Ismail Husni (pemilik harian Lombok Pos), Harun Alrasyid (anggota DPD), Irjen (Purn) Farouk (mantan Gubernur PTIK), dan masih banyak yang lain.

Diantara tiga harian umum yang saya sebut di muka, dua diantaranya kini juga menjadi perbincangan publik media di Mataram. Pasalnya, secara tertutup maupun terbuka, kedua harian ini –Lombok Pos dan NTB Pos—dikait-kaitkan sebagai ”kendaraan politik” dua calon Gubernur NTB mendatang. Lombok Pos jelas akan berorientasi kepada sang pemilik yang juga berniat maju ke pilgub, yakni H Ismail Husni. Sementara NTB Pos, santer terdengar di belakangnya mendapat pasokan dana dari Lalu Serinata, gubernur sekarang. Bahkan beberapa kawan penerbit di Mataram sempat membisikkan kepada saya, jika diantara bantuan ”dana pembinaan pers” yang dikucurkan Pemprov NTB tadi, alokasi terbesar jatuh kepada NTB Pos. Wallahualam..!

Jika ini benar, maka perseteruan antar koran lokal yang sama-sama mengusung kandidat gubernur itu tak mungkin terelakkan lagi. Dalam situasi seperti ini, yang akan menikmati keuntungan justru koran dan media cetak mingguan lain yang masih menjunjung sikap independensi mereka. Bisa dimaklumi, kelak, jika iklan-iklan kandidat gubernur H Ismail Husni tak bakal dipasang ke harian NTB Pos. Pun sebaliknya, iklan-iklan kandidat gubernur Lalu Serinata mustahil mau dipasang di Lombok Pos.



Patut disayangkan, memang. Saya sendiri cenderung berpendapat, seyogianya pemilik kedua harian ini, jika benar-benar hendak maju ke pemilihan gubernur mendatang, tak usah terlalu eksplisit mengumbar hasrat politiknya menggunakan kendaraan media mereka masing-masing. Selain akan menjadi blunder politik –yakni mengurangi independensi media mereka—juga bakal mendapat empati negatif dari publik pembaca. Dipersepsi sebagai koran partisan. Sebuah sikap yang sejatinya sangat dihindari media cetak manapun.


Lepas dari potret politik terbaru di Lombok yang terkesan kuat memanfaatkan media lokal terlalu mencolok, saya memperoleh kesan pasar media di NTB sebenarnya belum terlalu menggembirakan. Dengan populasi Pulau Lombok yang kurang dari 4 juta jiwa, penetrasi oplah media di pulau ini –berdasarkan perhitungan kasar hasil bincang-bincang dengan kawan-kawan di Mataram— tak lebih dari 50 ribu eksemplar per hari. Disamping tiga harian umum yang konsisten terbit, pada umumnya media cetak lokal di NTB hadir dengan konsep mingguan umum. Oplah mereka pun, hanya dalam kisaran 500 – 2000 eksemplar.


Di luar pulau Lombok, masih di propinsi NTB, terdapat dua harian lain yang cukup eksis. Mereka adalah Bima Ekspres di kota Bima, pulau Sumbawa, dan Radar Bima. Khusus Radar Bima, dilahirkan dari rahim Lombok Pos. Boleh jadi, kehadirannya untuk menyaingi Bima Ekspres yang sudah terbit sejak tahun 2000.

Beberapa kelemahan klasik sebagaimana dialami media-media cetak lokal di luar pulau Jawa, saya jumpai pulau dalam forum lokakarya ini. Rata-rata mereka memiliki kelemahan di bidang kualitas SDM. Miskinnya lapangan kerja baru yang bisa dimunculkan oleh pemerintah propinsi maupun kota dan kabupaten di NTB, disikapi para penerbit media lokal di sini sebagai alternatif lapangan kerja yang bisa diharapkan. Yang memprihatinkan, saya sempat mendengar ungkapan –meski ini terjadi ketika belakangan saya mengunjungi Kota Bima (6 – 9 Juli)—dari seorang penerbit media cetak lokal di NTB, “Ketimbang menganggur, bang, mendingan kami membuat koran.” Masya Allah..!

Kesempatan kerja yang sempit dan meningkatnya laja pengangguran terbuka, menjadikan pilihan anak-anak muda –rata-rata penerbit media mingguan di NTB adalah anak-anak muda (kisaran 30-an awal)—ini mempertaruhkan kredibilitas dan martabatnya untuk menerbitkan koran-koran mingguan. Meskipun dengan modal pas-pasan. Koran mereka dicetak dalam wujud foto copy, misalnya.

Tak heran, jika kemudian diantara mereka sempat menanyakan kepada kami, apakah penerbitan pers dengan cetakan foto copy dilarang? Atau, bagaimana dengan media mingguan yang dicetak menggunakan printer bubble jet? UU No. 40/1999 tentang Pers memang tidak secara eksplisit melarang format foto copy atau printer bubble jet dalam penerbitan pers. Yang diharuskan, antara lain adalah, penerbitan pers bersangkutan mesti berbadan hukum. Bentuknya bisa dari mulai koperasi, yayasan, CV, hingga PT. Nah, soal inilah yang agak bermasalah. Saya menjumpai, beberapa diantara mereka masih belum berbentuk badan hukum.


Secara legal formal, setiap usaha yang mengarah kepada bisnis, semestinya harus memiliki izin badan hukum atau badan usaha. Karena ini akan menyangkut pelbagai aspek turunan, semacam perpajakan, transaksi perbankan, dan sebagainya. Masalah lain juga akan muncul, karena UU Pers mengamanatkan bahwa penerbitan pers bersangkutan harus mencantumkan nama dan alamat percetakan yang digunakan pada bagian box redaksi. Kalau mereka mempergunakan bentuk foto copy atau dicetak dengan mesin printer biasa, jelas klausul ini tidak bisa mereka penuhi. Alias, bisa disebut melanggar UU Pers.


Temuan-temuan semacam ini, buat saya tidak terlalu aneh, mungkin karena kerap mendapati saat berjumpa dengan penerbit-penerbit lokal di daerah lain di luar pulau Jawa.

Kelemahan lain, masih menyangkut kelemahan SDM, adalah miskinnya kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan produk dan pemasaran penerbitan mereka. Ujung tombak pasar bagi sebagian penerbitan di NTB adalah kantor-kantor pemerintah kota, kabupaten, dan propinsi. Karena itu aneh bagi saya, ketika ada sebuah penerbitan di NTB yang dengan bangga menyebutkan dalam salah satu halamannya, jika penerbitannya “terdaftar di kantor BIKD (Badan Informasi dan Komunikasi Daerah) NTB”. Padahal tak ada kewajiban bagi penerbit pers sekarang untuk mencatatkan namanya di kantor BIKD atau Kominfo lokal. Seperti ketika masih berlaku rezim SIUPP di masa Orde Baru, yang mengharuskan penerbit pers terdaftar di Departemen Penerangan.

Dengan hanya mengandalkan pasar pada komunitas kantor-kantor Pemkab, Pemkot, dan Pemprov, bisa dibayangkan berapa besar penetrasi pasar mereka. Saya pun memberikan pendapat kepada kawan-kawan ini, bahwa semestinya mereka harus menjadi “koran rakyat”. Penerbitan pers yang mengakar kepada pembaca masyarakat secara umum, dan bukannya sekadar dibaca oleh aparat pemerintah daerah.


Kekuatan sebuah penerbitan pers adalah ketika memperoleh legitimasi pasar dari masyarakat luas sebagai pembacanya. Sehingga penerbit pers tersebut bisa menjual potensi dan profil pasar pembacanya kepada calon pemasang iklan secara lebih efektif.


Mata rantai kelemahan koalitas SDM tersebut akhirnya menjalar pada koalitas isi penerbitan mereka. Saya menjumpai pada beberapa penerbitan di NTB masih kerap terdapat kesalahan-kesalahan logika bahasa dan struktur kalimat yang “njelimet”. Alias sulit dimengerti apa yang dimaui oleh wartawan dalam tulisannya. Implikasinya, hal ini tentu akan menyebabkan pembaca merasa malas membaca tulisan-tulisan itu. Belum lagi soal kode etik jurnalistik yang masih sering terabaikan. Menulis seseorang yang belum tentu terbukti bersalah –dalam kasus dugaan korupsi, misalnya—tidak diperkenankan mempergunakan nama terang dan harus mencantumkan kata seperti ”diduga bersalah”. Kecuali merupakan hasil kutipan penyelidikan yang telah usai dilakukan aparat kepolisian dan kejaksaan, yang karenanya boleh dicantumkan nama terang si empu nama tersangka atau terdakwa.


Saya juga mencoba membantu mereka untuk mengarahkan agar tidak selalu terjebak pada segmentasi dan positioning produk sebagai media cetak umum. Misalnya dengan menggarap komunitas sekolah atau anak-anak. Lewat cara ini, persaingan berdarah-darah memperebutkan pasar pembaca dan pengiklan yang belum besar bisa disiasati dengan cara yang lebih cerdik. Sekaligus menjadikan mereka menemukan pasar-pasar pembaca anyar yang tidak kalah potensinya untuk digarap dalam jangka panjang
.

Ali Yudia, Siap di Calonkan sebagai Bupati Lombok Timur periode 2008-2012

Sosok yang satu ini cukup bersahaja. Low profile dan di kesehariannya tak ada yang menyangka kalau Beliau adalah anggota DPRD Propinsi NTB dari Komisi III.

Saat wartawan Nusatenggaranews datang ke rumahnya, Mamiq Yud (panggilan akrabnya) langsung mempersilahkan untuk duduk bersama dengan tamunya yang lain di rumahnya, Jln Merpati No.14, Monjok, Mataram, senin (07/01).

Dengan sopannya Beliau menyapa, "Sebentar ya Pak, saya lanjutkan pembicaraan saya dulu dengan tamu saya ini." Ternyata tamu yang dimaksud adalah dari tokoh-tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan ormas yang datang jauh-jauh dari Lombok Timur. Dari pembicaraan mereka tersirat bahwa mereka datang ke Mamiq Yud tersebut sangat berharap agar Beliau bisa mencalonkan diri sebagai salah satu calon Bupati Lombok Timur periode 2008-2012.

"Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada Bapak-bapak yang jauh-jauh datang dari Lombok Timur ini. Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang datang ke saya untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Lombok Timur. Di antaranya beberapa organisasi mahasiswa, tokoh pemuda, dan tokoh agama," kata Mamiq Yud menjelaskan.

"Tapi bukannya saya tidak mau, saya ingin sekali memberikan yang terbaik buat daerah kelahiran saya. Tapi kendala saya adalah finansial untuk membayar kendaraan yang akan saya pakai ini yang menjadi pikiran saya," lanjutnya menjelaskan.

"Saya tiap malam sedih, terharu dengan banyaknya masyarakat datang ke rumah saya ini. Bapak-bapak kalau tidak percaya akan saya tunjukkan bukti-bukti surat dukungan dari berbagai organisasi yang ada di Lombok Timur," ungkap Beliau sambil masuk ke kamarnya.

Selang beberapa lama Beliau keluar dengan satu tas berisi kertas-kertas yang memang berisi tentang dukungan dari berbagai organisasi, ornop, tokoh masyarakat, Kepala Desa, tokoh agama, tokoh pemuda dan lain sebagainya. Sakaki ,sekretaris Yatofa, salah satu organisasi terbesar di Lombok Timur saat dihubungi di tempat terpisah mengatakan bahwa Lalu Ali Yudia adalah figur yang sangat cocok untuk menjadi pemimpin kami. Di saat rakyat Lombok Timur kehilangan figur tokoh untuk dijadikan pemimpin, Mamiq Yud muncul.

Beliau muncul karena diminta oleh elemen perwakilan masyarakat yang ada di Lombok Timur. Bukan mencalonkan diri, "Tolong dicatat Mas!" lanjutnya dengan antusias. "Inilah perbedaaan Mamiq Yud dengan calon lain. Kalau calon lain itu mencalonkan diri karena mereka kaya dan optimis mampu membeli kendaraan Parpol. Tapi satu yang perlu dingat mereka semua bahwa keputusan itu ada di tangan rakyat," tegasnya.

Lalu siapakah Ali Yudia ini? Karena masyarakat Lombok Timur sangat berharap sekali agar Beliau maju dalam pesta rakyat 2008. Tunggu info selanjutnya dari tim Nusatenggaranews yang akan mencoba turun ke lapangan di berita selanjutnya.

Beasiswa Ke India

PERSYARATAN
1. Telah lulus S1, bagi yang ingin mendaftar S2
2. Lulus tes bahasa Inggris dan Interview
3. Toefl (Minimum skor tahun ini silahkan ditanyakan ke Kedutaan India)

KELENGKAPAN DOKUMEN
1. Mengisi formulir pendaftaran (minta ke bagian pendidikan kedutaan India)
2. Copy ijazah bahasa Indonesia yang telah dilegalisir
3. Copy ijazah terjemahan bahasa Inggris yang telah dilegalisir
4. Copy transkrip bahasa Indonesia yang telah dilegalisir
5. Copy transkrip terjemahan bahasa Inggris yang telah dilegalisir
6. Surat rekomendasi dari dosen, dalam bahasa Inggris, yang menyatakan bahwa kita capable untuk kuliah S2 (Biasanya kita yang buat sendiri dan dosen tinggal tanda tangan dan stempel)
7. Surat keterangan sehat (form-nya khusus, ada di formulir pendaftaran)
8. Surat keterangan bebas aids

STEP BY STEP PROCEDURE
1. Datang ke Kedutaan India, atau konsulat India di Indonesia. Jakarta di jalan Rasuna Said Kuningan, persis sebelah Erasmus Huis/Kedutaan Belanda, atau persis diseberang Hotel Gran Melia.
2. Lapor sama bagian security bahwa anda ingin bertemu bagian pendidikan untuk kuliah di India (Untuk di kedutaan India di Jakarta, temui Mbak Tati)
3. Minta Formulir pendaftaran program ICCR (Nama program pemberi beasiswa)
4. Di formulir bagian belakang ada daftar nama universitas yang bekerja sama dengan program ICCR (tidak semua universitas di India bekerja sama dengan program ICCR untuk memberi beasiswa)
5. Lihat buku katalog yang berisi daftar universitas dan jurusannya.
6. Tentukan 3 Universitas dan jurusan yang anda ingin pilih, pilih prioritas pertama, kedua dan ketiga.
7. Isi formulir dan lengkapi dokumen-dokumen yang diminta.
8. Serahkan kembali ke bagian pendidikan kedutaan/konsulat India.
9. Jika anda lolos tahap administrasi, anda akan ditelpon untuk tes Bahasa Inggris.
10.Jika anda lolos tes Bahasa Inggris, anda akan ditelpon untuk tes Interview.
11.Pihak kedutaan biasanya memberi pengumuman pada bulan Juni.
12.Jika anda sudah dinyatakan lolos, selanjutnya membuat passport.
13.Serahkan passport ke kedutaan untuk dibuatkan visa.

Kerajaan Selaparang Lombok

Kerajaan Singhasari

Singhasari, adalah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Pusat kerajaan ini berada di daerah Tumapel (sekarang di wilayah Malang).

Tumapel merupakan daerah di bawah wilayah Kerajaan Kadiri. Penguasa Tumapel waktu itu Tunggul Ametung, yang memiliki istri bernama Ken Dedes. Ken Arok, seorang rakyat jelata yang kemudian menjadi prajurit Tunggul Ametung, berikeinginan untuk menguasai Tumapel. Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung dengan keris yang dipesan dari Mpu Gandring. Ken Arok kemudian menjadi pengganti Tunggul Ametung dengan dukungan rakyat Tumapel. Ken Dedes pun menjadi istri Ken Arok. Ia dimahkotai dengan gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Tak lama kemudian, Ken Dedes melahirkan puteranya hasil perkawinannya dengan Tunggul Ametung, yang diberi nama Anusapati. Dari selir bernama Ken Umang, Ken Arok memiliki anak bernama Tohjaya.

Langkah selanjutnya adalah penyerbuan ke pusat Kerajaan Kadiri. Ken Arok memanfaatkan situasi politik Kadiri yang kurang kondusif waktu itu, dan beraliansi dengan para brahmana. Raja Kadiri Kertajaya akhirnya dapat dikalahkan pada tahun 1222, dan sejak itu Kadiri menjadi bagian dari wilayah Singhasari

Kitab Pararaton mengisahkan pertempuran berdarah yang terjadi pada keturunan Ken Arok. Anusapati yang kemudian mengetahui bahwa pembunuh ayahnya (Tunggul Ametung) adalah Ken Arok, pada tahun 1227 ia membunuh Ken Arok, dan kemudian menjadi menggantikannya menjadi Raja di Kerajaan Singhasari.

Anusapati memerintah Singhasari selama 20 tahun. Tohjaya, putera Ken Arok dari selir bernama Ken Umang kemudian menuntut balas kematian ayahnya. Tohjaya kemudian membunuh Anusapati pada tahun 1248, dan menjadi raja Singhasari. menurut beberapa riwayat juga dilakukan dengan menggunakan keris Mpu Gandring.

Tohjaya mendapat banyak tentangan, karena ia hanyalah anak seorang selir yang tidak berhak menduduki singgasana Singhasari. Tohjaya hanya memerintah kurang dari setahun, karena tewas dalam sebuah pemberontakan (yang menentang dirinya menjadi raja) yang dipimpin oleh Ranggawuni (anak Anusapati) dan Mahesa Cempaka (anak Mahesa Wong Ateleng). Sebagai penggantinya adalah Wisnuwardhana (Ranggawuni), putera Anusapati.

Pada masa kekuasaan Ranggawuni bergelar Wisnuwardhana, perseteruan antar-keluarga dalam Dinasti Rajasa berakhir dengan rekonsiliasi. Wisnuwardhana memerintah bersama sepupunya, Mahesa Cempaka. (Mahesa Cempaka dan Ranggawuni adalah cucu Ken Dedes). Wisnuwardhana memiliki menantu bernama Jayakatwang. Pada tahun 1254, Wisnuwardhana turun tahta dan digantikan oleh puteranya, Kertanagara. Wisnuwardhana meninggal pada tahun 1268.

Kertanagara adalah raja terakhir Singhasari (1268-1292). Pada tahun 1275, Kertanagara mengirim utusan ke Melayu, dan patungnya sebagai Amoghapasha didirikan di Jambi (1286). Pada tahun 1284, Kertanagara mengadakan ekspedisi ke Bali, dan sejak itu Bali menjadi wilayah Kerajaan Singhasari. Pada tahun 1289, Kubilai Khan (Kekaisaran Mongol) mengirim utusan ke Singhasari untuk meminta upeti, namun ditolak dan dipermalukan oleh Kertanagara.

Kekuatan Singhasari yang terfokus pada persiapan pasukan untuk mengantisipasi balasan Mongol, membuat lengah pertahanan dalam negeri. Akibatnya kesempatan ini digunakan oleh Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari. Jayakatwang adalah menantu Wisnuwardhana, yang kurang suka dengan peralihan kekuasaan Singhasari ke tangan Kertanagara. Kertanagara akhirnya meninggal ketika mempertahankan istananya (1292). Pertempuran ini digambarkan jelas dalam Prasasti Kudadu yang ditemukan di lereng Gunung Butak, Mojokerto.

Raden Wijaya, menantu Kertanagara, berhasil melarikan diri beserta Aria Wiraraja ke Sumenep (Madura) dan di sana ia merencanakan strategi untuk mendirikan kerajaan baru.

Simpang Ajal

SELESAI sudah tugas Montenero. Karenanya, kini ia tinggal bunuh diri. Bunuh diri! Itu saja. Betapa tidak! Ia telah membunuh tiga orang itu sekaligus. Ya, tiga orang. Santa, orang yang dengan serta-merta memenggal kepala bapaknya ketika bapaknya menolak menandatangani selembar kertas yang berisi surat perjanjian untuk terikat dengan sebuah partai. Lantas Denta, yang ketika pembunuhan itu terjadi berusaha membungkam mulut bapaknya agar tidak berteriak, serta Martineau yang mengikatkan tali pada tubuh bapaknya agar bapaknya tak bergerak sedikit pun menjelang kematiannya. Karena itu, sekarang, Montenero sendiri tinggal bunuh diri!

"Selamat malam, Montenero. Sebaiknya kamu kubur dulu ketiga mayat itu baik-baik! Setelah itu, terserah!" ucap batin Montenero, meronta.

"Ya, kubur dulu! Lantas, selamat tinggal!" sisi kedirian batin Montenero yang lain menimpali.

Sesungguhnya Montenero memang tidak perlu menjumput beragam kebijaksanaan untuk sesegera mungkin mengubur mayat-mayat itu. Toh memang, tugas pembantaiannya telah usai. Dan dengan sendirinya, dendam yang bersemayam di dalam dirinya lunas terbalaskan.

"Tetapi, semestinya engkau mempunyai cukup rasa kemanusiaan untuk tidak membiarkan mayat-mayat itu menggeletak begitu saja karena kau bunuh! Kasihan tubuh mereka menggeletak! Semestinya jika dengan cepat mereka menjadi makanan belatung-belatung menggiriskan di dalam tanah. Bukan menjadi makanan empuk bagi lalat-lalat hijau!" Belati, yang telah menikam dada Santa, Denta, dan Martineau masing-masing sebanyak enam kali, yang sepertinya sangat tahu berontak batin Montenero, ikut angkat bicara.

Montenero menghela napas. Menggeliat.
"Ah, benar. Sudah semestinya. Sekarang, engkau harus bisa membebaskan pikiranmu dari angan-angan tentang balas dendam. Ingat, ketiga mayat itu telah menjadi seonggok daging yang tak berarti. Harus dikubur! Engkau harus mengubah pola pikir yang begitu konyol itu, Montenero," cecar sebilah Pedang, yang rencananya ia gunakan juga untuk membunuh, tetapi Santa, Denta, dan Martineau ternyata cukup memilih mati cuma dengan sebilah Belati.

"Oh ya. Ya. Aku ingat lagi sekarang. Engkau harus mempersiapkan banyak keberanian agar kau menjadi tidak gagu dalam bersikap. Jangan seperti ketika kau akan membunuh! Kau hunjamkan diriku ke dada ketiga mayat itu dengan gemetar. Sekarang, untuk menguburkan ketiga mayat itu, tak perlu ada denyut ragu yang berujung gemetaran badan, desah napas memburu, suara terengah-engah, dan keringat dingin yang keluar berleleran. Semua itu harus diubah. Dengan segera!"

Montenero melirik jam tangan. Kurang tiga puluhan menit kokok ayam bakalan meletup kejut. Ia menghapus keringat dingin yang perlahan-lahan tapi pasti mulai membanjiri muka dan tangannya.

"Cepat lakukan! Keberanian telah datang dengan sendirinya. Lakukan!"
Angin pagi mendesir. Jam tangan terus berdetak. Montenero pucat. Lunglai. Apa yang dikatakan oleh Belati dan Pedang itu ada benarnya. Tak ada kebijaksanaan lain menjelang pagi hari itu kecuali penguburan. Tentu saja, penguburan dengan segala kelayakannya. Ada dupa, bunga, kain pembungkus mayat, dan pastilah keberanian. Untuk yang terakhir, soal keberanian itu memang sudah sedikit dimiliki Montenero. Tetapi, untuk dupa, bunga, dan juga sesobek kain pembungkus mayat? Atau, pikiran tentang sesobek kain pembungkus mayat sungguh tak diperlukan lagi?

"Ah, begitu banyak pertimbangan kau! Ambillah cangkul! Gali tanah yang cukup untuk mengubur ketiga mayat itu sekaligus. Cepat! Tunggu apa lagi, ha?! Ayo, berikan kelayakan kematian kepada Santa, Denta, dan Martineau. Setidaknya, agar ruh mereka bisa sedikit tertawa di alam baka sana. Cepat Montenero! Waktu tinggal sebentar! Masih ada tugas-tugas lain yang harus kau panggul untuk mencipta sejarah. Sejarah, Montenero! Jangan main-main! Cepat! Ayo, dong. Cepat!!!"

Montenero diam. Terpaku. Ia sebenarnya memang tidak perlu mempertimbangkan apa-apa lagi kecuali segera mengubur ketiga mayat itu serapi mungkin, agar paginya tidak sia-sia karena dikorek-korek anjing. Lantas, selesai! Sejarah baru tergores. Bapaknya yang mati sangat mengenaskan dengan kepala terpenggal dari tubuhnya, terbalas sudah. Meskipun kematian Santa, Denta, dan Martineau tidak sempurna seperti kematian bapaknya, tetapi setidaknya mati. Itu saja. Karena hanya sisa keberanian itulah yang dimilikinya. Kebetulan memang juga mati, bukan? Tuntaslah cerita ibunya yang selalu membekas dalam ingatan dan membuatnya selalu berpikir dan bersikap semirip orang sableng.

Montenero memutuskan mengambil cangkul. Belati dan Pedang tertawa. Membuat Montenero kembali gundah, berada dalam sangkar kebingungan. Keringat berleleran lagi dari sekujur tubuhnya. Tangannya kembali gemetar. Dengan berteriak sekeras mungkin, Montenero membanting cangkul yang sudah tergenggam kencang di tangannya. Berarti keberaniannya sedikit hilang, bukan? Bahkan barangkali hilang sama sekali? Belati dan Pedang kebingungan. Keduanya pucat pasi. Motivasi apa yang mesti disuntikkan untuk membangkitkan kesadaran keberanian Montenero menjelang matahari terbit?

"Aku tak mampu lagi melakukan apa-apa. Aku telah menuntaskan tugasku. Aku telah mencipta…. Uh…. Semestinya kau tak menghimpitku dengan hal-hal kecil yang justru akan menjebakku pada rasa bersalah semacam ini!" dengan suara penuh gemetar, seolah dicekam oleh ketakutan entah apa, Montenero angkat bicara.

"O…. Kau menganggapnya hal kecil, Montenero? Harusnya aku tadi menolak untuk kau gunakan membunuh jika kau menganggap penguburan adalah sebagai hal yang kecil, remeh. O…. aku bisa saja mogok untuk membunuh bila akhirnya kau malah bimbang sikap semacam ini! Kau tahu, Montenero. Aku bisa balik mengubah keberanianmu untuk membunuh. Aku bisa tiba-tiba saja menikam dadamu sendiri di depan Santa, Denta, dan Martineau. Bangsat! Anjing, kau!!!"

Montenero terpaku. Suasana di sekitar tempat pembantaian itu merayap senyap. Montenero berulang-kali blingsatan. Montenero terus-menerus mengusap keringat yang berleleran membasahi sekujur wajah. Dan detik terus saja berdetak. Sesekali ia garuk-garuk kepala sembari berjalan mondar-mandir. Belati dan Pedang cuma memandangi saja. Bisa jadi, Belati dan Pedang memang sudah kehabisan kata-kata untuk memotivasi Montenero. Sesekali dilihatnya mayat Santa yang terbujur kaku, Denta yang terkapar melingkar bagai ular, dan Martineau yang jika diperhatikan secara jeli ternyata malah tersenyum di puncak kenyerian kematiannya.

"Bagaimana, Montenero? Bagaimana? Aku masih sanggup membikin keberanian buatmu. Belum terlambat, dan tak akan pernah terlambat. Aku masih bersabar bersama Pedang."

"Bagaimana?" Montenero mengusik tanya kepada dirinya sendiri.
"Terserah!"
"Bagaimana, Belati?"
"Terserah! Bagaimana dengan kamu, Montenero? Masih sanggup kau mendengar kata-kataku? Ok. Engkau masih bisa bekerja dengan cepat menanam ketiga mayat itu baik-baik. Ambillah cangkul itu. Keduklah tanah segera. Kuburkan mereka senyaman mungkin. Ah, bulan yang sebentar lagi bakalan angslup itu juga pasti merestui dan memandangimu dengan rasa puas. Barangkali, ia bakalan memberi ucapan selamat kepadamu. Kenapa engkau mesti terjebak pada rasa ragu? Ayo, aku senantiasa berada di belakangmu!"

Aih, ayam telah berkokok bersahutan. Meskipun ayam baru berkokok, keadaan di sekitar tempat pembantaian itu sudah cerah. Udara meruapkan kesegaran. Montenero terlambat. Ia belumlah membuat perhitungan-perhitungan untuk bergegas menyuruh Belati agar mau menikamkan diri ke dada Montenero yang kini telah disesaki gebalau bingung, ketololan, amarah, dan entah apa lagi, juga entah ditujukan buat siapa lagi. Montenero betul-betul lunglai, lenyap keberanian, tercipta goresan sejarah yang entah baru entah tidak.

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"

Puisi

aku ,,, ,,, ,,,
kamu ,, ,,, ,,,
dia ,,, ,,, ,,,

menjalin persahabat yang sudah sangat lama,,,
lama sekali, ,, , ,, ,
aQ mulai menykainy ,,,
tapi lebih sayang kamu

apa yang ku rasa sekarang tk' bisa ku ungkapkan padany,,,

aku ingin segera di ungkapkan
karna nanti aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian,,,

aku ingin skali bisa bertemu kalian ...
nanti ...
jika aku ... kamu ... dn ...
dy ...
sudah benar" dewasa tuk' menjalin hubungan serius,,

dn knangan kita ,,, ...
tk'kan mudah tuk' kulupakan ,,,