This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Memecahkan Jendela dengan Bola

Ada seorang anak yang sedang bermain bola sendirian. Ia menendang bolanya terlalu keras dan memecahkan kaca rumah seorang wanita. Anak itu pun langsung berlari ketika wanita itu keluar dan meneriakinya. Si anak pun berpikir untuk kembali. Ia ingin agar bolanya dapat diambil lagi. Ia lalu berpikir cara apa yang dapat dilakukan.

Beberapa saat, anak itu pun mengetuk rumah wanita tadi dan berkata pada wanita tersebut, “Ayahku akan datang dan membetulkan jendela tersebut.”

Dan memang datanglah pria dengan kotak perkakas dan berkata pada wanita tersebut, “Permisi. Saya mau membetulkan jendela anda…”

Wanita itu pun mempersilahkan pria tersebut masuk untuk membetulkan jendelanya. Selagi pria itu membetulkan jendela, anak tadi meminta bolanya kembali. Wanita itu pun memberikan sambil berpesan agar lain kali hati-hati. Anak itu pun pulang.

Setelah selesai membetulkan jendela, sang pria tadi langsung memberikan tagihan kepada wanita tersebut. Wanita itupun kaget dan berkata, “Bukankah anda ayahnya?”

Si pria pun berkata, “Lho, bukankah anda ibunya?”

PARA JAHANAM!

Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata

Para Pelaku:
JOHARI (suami)
TUMIYAH (istri)
ROS (anak perempuan)
UJANG (anak laki-laki)

Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.

Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!

I
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paroh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Johari namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.

Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.

JOHARI:
Merah delima?
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja?
Tum! Kau dengar aku Tum?
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)

II
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.

TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!

JOHARI:
Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan disini?
TUMIYAH:
Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal. Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain meramal syair-syair sialanmu itu?

JOHARI:
Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini

TUMIYAH:
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!

JOHARI:
Alah! Kau tahu apa tentang merah delima?
(Johari melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)

III
Ketika Johari asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang, pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.

JOHARI:
He, anak jadah! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)

TUMIYAH:
Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)

TUMIYAH:
Pak tua, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!

JOHARI:
Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.

TUMIYAH:
Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan

JOHARI:
Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…

TUMIYAH:
Alah sudah! Dasar pembual!

(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta)

TUMIYAH:
Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak tua?

JOHARI:
Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!

TUMIYAH:
Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak becus!

JOHARI:
Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon

TUMIYAH:
Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.
(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)

IV
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ros—anak gadisnya—muncul, Ros datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Johari jadi iri dan lapar. Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana.

JOHARI:
Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu

ROS:
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)

JOHARI:
Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?

ROS:
Enak saja, bang Nasrul yang kasih aku lima ribu

JOHARI:
Nasrul? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Nasrul. Nasrul senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa

ROS:
Nggak! Pergi saja sendiri
(Ros kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)

JOHARI:
Keparat! Awas kamu Ros, aku doakan kau nyahok dengan Nasrul!
(Pak Johari pun pergi keluar rumah)

V
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. Kecuali Pak Johari yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.

Pukul sebelas malam, pak Johari baru pulang. Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya menceracau-ceracau tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.

JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..

(Mulut Johari terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…)

EPISODE DAUN KERING

Sebuah drama monolog oleh Zulfikri Sasma

ADAPTASI DARI CERPEN KARYA LARSI DE ISRAL





Panggung adalah ruangan kosong yang hanya di isi oleh sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Lampu panggung tampak temaram. Sarjun, seorang lelaki muda (kira-kira berusia 24 tahun) dengan menyandang sebuah ransel di punggungnya, tampak melangkah lemas memasuki panggung. Ribuan rasa kecewa menghias di wajahnya. Lelaki itu kemudian duduk di atas bangku dan menaruh ransel di sampingnya. Ia tertunduk lesu dan kemudian mengangkat wajahnya.



SARJUN

Saudara-saudara, sampai hari ini, saya masih mempercayai Tuhan dengan segala skenario-Nya. Pergantian siang dan malam. Kehidupan dan kematian. Untung dan rugi. Marah dan cinta. Di dalam semua itu kita melingkar, menjalar bahkan kadang terpaku tanpa daya. Beragam kisah dilakoni dengan bermacam rasa yang terkadang menjelma benang kusut. Dibutuhkan kesabaran untuk mengurainya. Dan, manakala kesabaran yang kita miliki kian menipis atau sama sekali sirna, adakah orang lain akan datang menawarkan pertolongan? Memberi kesejukan pada pikiran dan perasaan seperti benang kusut?

Teramat berat bagi saya untuk berbagi kisah ini.

Kisah yang saya sebut sebagai episode daun kering!



Sarjun tertunduk, kecewa berkecamuk di dadanya. Tak lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan melanjutkan ucapannya.



SARJUN

Bukan! Bukan karena menyangkut sisi hidup saya yang gelap, bukan saudara-saudara! Akan tetapi, hal ini melibatkan keluarga saya yang tinggal dua orang: Papa dan Alpin, adik saya…



Sarjun merubah posisi duduknya, memandang langit, tatapannya kosong.



SARJUN

Sejak kematian ibu, saya melanjutkan kuliah di Padang sedang Alpin kuliah di Medan. Sejak itulah Papa tinggal sendiri di Payakumbuh. Saya mengerti benar makna kesepian bagi orang seusia Papa. Karena itu saya mengunjunginya tiap bulan. Alpin pun saya kira begitu. Namun karena Medan dan Payakumbuh terbentang jarak yang tidak dekat, maka ia hanya pulang tiap liburan semester.

Tetapi saudara-saudara, kepulangan saya kali ini, sungguh-sungguh membuat saya hampir putus asa! Betapa tidak? Baru saja saya sampai di teras depan rumah, tiba-tiba saya mendengar teriakan “tidak” yang sangat begitu keras. Saya yakin, itu adalah suara Papa. Saya jadi tertegun mendengarnya, lalu mengintipnya lewat lubang kunci.



Sarjun beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan melangkah ke depan panggung sambil tersenyum mengejek



SARJUN

Saudara-saudara, saudara-saudara tahu apa yang saya lihat? Sungguh di luar dugaan, saya menyaksikan Papa berdiri disamping meja telepon dengan kepala tertunduk dan wajah kuyu! Sempoyongan ia menuju sofa. Kecewa, marah, sedih dan entah makna apa lagi yang dapat dibaca dari raut wajahnya.



Kesal, lelaki itu kembali duduk di bangku



SARJUN

Heran, tidak mungkin Papa begitu! Tidak mungkin! Papa saya bukan lelaki yang rapuh. Ia lelaki paling tegar yang pernah saya kenal. Ia cerdas meski terkadang sangat egois. Masih terlalu jelas dalam ingatan saya ketika ia memutuskan berburu babi sebagai olahraga pengisi kesendiriannya.



Sarjun kembali menatap langit. Kali ini tatapannya tajam.

SARJUN

Waktu itu papa duduk di sofa. Ia membaca Koran, kelihatan santai, saya datang dan mengambil tempat di sofa lain.



SARJUN

Oke! Silahkan Papa buru babi. Tapi, membeli anjing? Apalagi seharga dua juta lebih? Saya tidak setuju! Itu haram, Pa!

PAPA

Hehehehe… jika tidak dibeli Papa dapat anjing dari mana? Mana ada anjing kurap yang bisa buru babi? Atau anjing jadi yang dibagi-bagi secara gratis? Nak, membeli anjing itu tidak apa-apa asal tujuannya baik. Nah, menyelamatkan tanaman petani dari hama babi kan perbuatan mulia? Banyangkan babi-babi yang temok itu diburu dengan anjing kurap, heh, heh… ia akan tetap merdeka melahap tanaman petani. Dan, petani tidak akan makan, kamu rela petani mati kelaparan?

SARJUN

Tapi Tuhan tidak pernah menghalalkan sesuatu dari yang haram

PAPA

Bukan Tuhan namanya kalau sekaku itu. Bukankah kamu sering bilang: adh-dharuratu tunbihul mahzhurat?

SARJUN

Apakah kondisi seperti itu sudah darurat?

PAPA

Menurutmu, keselamatan manusia bukan ukuran darurat?

SARJUN

Anjing adalah anjing. Babi adalah babi. Najis tetap najis dan haram tetap haram!

PAPA

Tuhan itu cerdas, nak. Ia tidak akan ciptakan tanah kalau memang kita dilarang menyentuh benda bernajis. Hehehehe…



Kesal Sarjun seperti memuncak. Ia berdiri dan melangkah menuju belakang bangku



SARJUN

Bah! Banyak sekali alasan Papa untuk membenarkan keinginan dan perbuatannya.



Sarjun menggeleng-gelengkan kepalanya



SARJUN

Nah, saudara-saudara, bukankah apa yang saya saksikan di rumah tadi tidak masuk akal?

Seseorang yang selama ini tegar tertunduk lesu dan kuyu? Ini tidak masuk akal!

Apalagi setelah itu saya lihat Papa menangis! Menangis? Papa menangis? Heh? Tiba-tiba saya dorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Papa terkejut melihat kedatangan saya. Segera Papa memburu saya. Lalu saya dipeluknya erat-erat. Begitu erat saudara-saudara!



Sarjun berhenti sejenak. Ia kembali duduk dan kemudian menunduk dengan kedua tangan menutup wajah. Keadaan jadi hening. Lama ia baru bersuara, tapi kali ini suaranya serak. Matanya kelihatan basah.



SARJUN

Dalam pelukan saya, tangis papa tiba-tiba tumpah. Saya jadi kikuk. Setelah agak lama, Papa saya ajak duduk. Papa masih menangis terisak-isak. Saya tinggalkan Papa di sofa, dan mengambil segelas air putih ke belakang.

Papa menangis? Sungguh tak masuk akal.



Sarjun diam sebentar, menghapus air mata yang menetes di pipinya. Berdiri lalu bergerak ke depan panggung.



SARJUN

Sampai malam itu, saya masih menganggap Papa sosok yang tegar, tidak rapuh apalagi cengeng. Saya punya banyak alasan untuk anggapan ini.

Pernah suatu ketika saya iseng-iseng mengikuti papa buru babi. Maksud saya untuk menemukan sebuah titik lemah sehingga Papa berhenti membeli anjing yang konon didatangkan dari Jawa. Tetapi yang saya temukan bukan titik lemah, melainkan noda hitam yang dicapkan kepada Papa. Ah, saya tidak tahu bagaimana mengatakan bagian ini. Papa ternyata seorang kriminal! Di hutan itu ia menanam ganja. Dan, buru babi rupanya hanya kedok buat mengelabui saya!

Ketika itu saya ingin lari ke tempat tak bernama dan entah dimana. Saya bingung. Tetapi darah muda saya berkata lain. Lawan! Ya, saya mesti melawan! Saya ambil beberapa helai daun jahanam yang tengah di jemur oleh anak buah Papa untuk saya linting. Saya kemudian mencari Papa.

Saya temukan Papa sedang merintih kesakitan, katanya diseruduk babi hutan. Ia hanya merintih, tidak menangis. Rasa iba tiba-tiba menjalar di dada saya, namun rasa benci telah meruang. Iba tiba-tiba tehalau oleh benci.

Seperti tidak tejadi apa-apa, saya menyalakan lintingan tadi, menghisapnya dalam-dalam dan menghempuskan asapnya ke arah Papa. Papa mencari-cari bau, lalu berdiri dan mengayunkan tamparan keras ke arah saya.

PAPA

Buang! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melainkan untuk anak-anak orang lain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!

SARJUN

Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang tidak memikirkan anak-anak orang lain. Aku bangga! Aku bangga Pa!



Sarjun kembali terdiam dan duduk di bangku kayu. Keadaan kembali hening.



SARJUN

Saudara-saudara, sekarang Papa menangis, terisak-isak. Betul-betul tidak masuk akal. Saya lalu menaruh segelas air putih di atas meja dan mempersilahkan Papa untuk meminumnya. Tetapi Papa tetap saja terisak-isak bersama tangisnya. Tiba-tiba, Papa menyebut-nyebut nama Alpin. Tentu saja saya terkesiap olehnya. Alpin? Ada apa dengan Alpin? Saya jadi bingung saudara-saudara! Heran!



Sarjun kembali menunduk, ia seperti menahan emosinya

SARJUN

Saudara-saudara, ternyata yang menyebabkan Papa saya menangis terisak-isak adalah karena Alpin. Alpin adik saya. Ia di tahan polisi. Alpin tertangkap basah menghisap daun jahanam itu. Daun yang ditanam orang lain yang tidak rela anaknya menghisap ganja!

Mendengar itu saya betul-betul kesal! Saat itu juga, saya ambil ransel dan segera melangkah menuju pintu. Waktu itu saya dengar suara papa memanggil nama saya, tapi tak lagi saya hiraukan. Saya muak! Sungguh-sungguh muak!



Sarjun makin menunduk, emosinya betul-betul memuncak, setelah merasa reda, barulah ia angkat kepalanya



SARJUN

Begitulah saudara-saudara, saya terpaksa kembali ke Padang malam itu juga. Saya tak sanggup menghadapi kenakalan orang tua seperti itu. Apalagi orang tua itu Papa saya sendiri. Telah saya putuskan untuk tidak menemui Papa lagi. Bahkan mungkin di hari pemakamannya kelak, saya takkan hadir. Saya tak bisa memberinya maaf. Saya tak bisa. Tetapi…hah…entahlah. Mungkin suatu ketika saya bisa. Mungkin… sebab, sampai saat ini saya masih mempercayai Tuhan dan segala skenariomya.



Sarjun berdiri, menyandang ranselnya kemudian berjalan keluar panggung. Bebannya berat.

PPP Menunggu ‘’Bola Liar’’, Golkar Cari Cawagub Loyal

Beberapa partai yang belum menentukan dukungannya saat ini bisa menjadi faktor penentu kemenangan dalam Pilkada NTB 2008. Partai-partai yang belum menetapkan dukungannya atau yang disebut ‘’bola liar’’ bisa saja ‘’hinggap’’ dikoalisi yang kini digalang PPP dengan PKB.

‘’Bisa saja ‘’bola-bola liar’’ ini hinggap ke kita. Secara person kami pernah lakukan komunikasi,’’ ujar Sekretaris DPW PPP NTB, Dra. Hj. Wartiah M.Pd, kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (28/2) kemarin. Wartiah menyadari bahwa dalam politik semua peluang bisa saja diwujudkan menjadi kenyataan. Karenanya upaya komunikasi dengan partai-partai yang belum menentukan sikap terus dilakukan.

Menurut Wartiah, pihaknya saat ini belum bisa menentukan kepastian pelaksanaan deklarasi pasangan calon Dr. Zaini Arony, M.Pd dan Nurdin Ranggabarani, SH, MH. Pelaksanaan deklarasi ini harus menunggu hasil perundingan dengan PKB selaku mitra koalisi resmi dari PPP. ‘’Kita berharap deklarasi awal Maret,’’ ungkapnya.

Wartiah tak mempermasalahkan adanya keberatan soal pengumuman dukungan PPP yang disampaikan Ketua DPW PKB NTB, H. M. Ali Bin Dachlan, baru-baru ini. Menurutnya, hal itu adalah miskomunikasi dan telah diselesaikan. ‘’Itu miskomunikasi dengan timnya saja. Sudah clear,’’ tandasnya.

Menurutnya, hubungan dengan PKB tidak bermasalah. ‘’Kami tetap bersama dengan PKB. Sekarang tinggal menyusun format deklarasi,’’ tambahnya. Ia menjelaskan, di internal PPP, hingga jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi momentum Pilkada NTB 2008. Ia mengklaim saat ini seluruh mesin politik PPP sudah siap digerakkan untuk memenangkan pasangan Zaini-Nurdin yang mereka usung dalam Pilkada NTB mendatang.

Pasangan Zaini-Nurdin menurutnya, memiliki peluang besar untuk memenangkan Pilkada NTB. Keberadaan Zaini sebagai satu-satunya kandidat asal Lombok Barat (Lobar) dianggapnya akan memberikan keuntungan secara politis.

Naiknya Zaini sebagai satu-satunya kandidat asal Lobar, membuat peluang figur ini lebih besar dalam meraup suara besar di Lobar. Sementara, beberapa figur lain yang sudah hampir dipastikan tampil, Drs. H. L. Serinata dan TGKH. M. Zainul Majdi, MA, (Tuan Guru Bajang) menurutnya harus berbagi suara di daerah asalnya, Lombok Timur.

Harus Loyal dan Tahu Diri

Sementara, Partai Golkar tampaknya tak ingin mengulangi disharmoni antara Gubernur dan Wakil Gubernur yang mewarnai kepemimpinan Drs. H. L. Serinata di NTB. Karenanya, Partai Golkar menegaskan cawagub yang akan mendampingi Serinata dalam Pilkada NTB 2008 mendatang haruslah loyal dan tahu diri.

‘’Cawagub harus loyal dan bisa harmonis. Harus menerima bahwa dia adalah di bawah Gubernur,” tegas Plt. Ketua Tim Pilkada DPD Partai Golkar NTB, H. M. Tohri, AM, BA, S.Sos, kepada Suara NTB di kediamannya, Kamis (28/2) kemarin. Menurutnya, paling lambat 9 Maret 2008 nama-nama cawagub yang dinominasikan telah dikirim ke DPP Partai Golkar.

Tohri menjelaskan, pihaknya ingin menghindari terulangnya disharmoni antara kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam sistem pemerintahan NTB. Karenanya seperti diatur dalam Juklak 05, Partai Golkar sengaja memberi keleluasaan penuh kepada Serinata selaku Cagub NTB terpilih untuk menentukan nominasi nama-nama pendampingnya. ‘’Jelas harus tahu diri. Dia (kandidat cawagub) itu direkomendasikan oleh cagub. Itu harus disadari,’’ imbuh Tohri.

Dalam Juklak 05 diatur bahwa cagub terpilih dari Partai Golkar berhak merekomendasikan tiga hingga lima nama yang akan dijadikan pendampingnya. Nama-nama kandidat cawagub yang direkomendasikan cagub terpilih nantinya akan diserahkan pada Tim Pilkada DPD Partai Golkar NTB.

Setelah diproses oleh Tim Pilkada DPD Partai Golkar NTB, nama-nama yang masuk lantas diserahkan ke DPP Partai Golkar. Setelah itu, DPP akan menurunkan nama-nama tersebut untuk dipilih satu nama melalui Rapat Pengurus Harian DPD Partai Golkar NTB. Dalam rapat ini, Tohri mangatakan DPP Partai Golkar tidak terlibat seperti halnya konvensi.

Menurut Tohri, Partai Golkar memiliki beberapa pertimbangan dalam menentukan cawagub yang akan diusung. Hal-hal yang akan diperhatikan adalah faktor latar belakang etnis, popularitas, kekuatan atau dukungan massa yang dimiliki, partai pendukungnya, hingga kemampuan finansial yang dimiliki sang kandidat. ‘’Yang jelas harus dari Pulau Sumbawa,’’ tambahnya.

Partai Golkar memiliki peluang memperbesar koalisi melalui penentuan cawagub. Beberapa figur cawagub yang berpeluang menjadi pendamping Serinata adalah Sekretaris PDIP NTB, H. M. Husni Djibril, B.Sc dan Ketua PAN NTB, M. Jabir, SH.

Di internal Partai Golkar beberapa nama juga sempat muncul. Salah satu nama yang sempat dikabarkan menjadi figur cawagub ideal adalah Ketua DPD Partai Golkar Kota Bima, Ferry Zulkarnain, ST.
Tohri mengaku belum bisa memberi kepastian siapa-siapa nama yang telah direkomendasikan oleh Serinata. Menurutnya, hal itu menjadi kewenangan Serinata selaku Cagub NTB dari Partai Golkar. ‘’Apa dari kalangan sendiri atau dari koalisi, kita tunggu mana yang dinominasi oleh cagubnya,’’ pungkas Tohri.

Juara Olimpiade Fisika Asia Hijrah ke Singapura

Pekanbaru - Tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Riau, peraih medali emas Olimpiade Fisika tingkat Asia memilih pindah ke Singapura. Dikabarkan, perubahan statusnya sebagai warga negara Singapura juga tengah diurus.

Purnawirman merupakan salah satu murid berprestasi di Riau. Namanya mengharumkan bangsa Indonesia dalam Olimpiade Fisika tingkat Asia di Pekanbaru tahun 2004 silam. Dia menyabet medali emas.

Tak cuma itu, pada tahun 2005, Purnawirman kembali menggondol mendali perunggu dalam Olimpiade Fisika tingkat Internasional yang dilaksanakan di Spanyol. Atas prestasi gemilangnya, Pemerintah Provinsi Riau memberinya janji beasiswa menuju perguruan tinggi favorit.

Tapi, semua itu cuma janji belaka. Setelah tamat SMA I Pekanbaru tahun 2005 lalu, Purnawirman bersama orangtuanya dikabarkan menagih janji tersebut. Tapi, bolak-balik mengadu ke Pemprov Riau, mereka tidak mendapat tanggapan apa pun. Keberhasilannya mengharumkan nama bangsa ternyata tidak digubris.

Siapa yang tidak jengkel dengan sikap pemerintah yang acuh tak acuh ini. Walhasil Purnawirman mengambil sikap tegas dengan pindah ke Singapura. Kepindahannya ini dipicu karena sudah ada jaminan beasiswa dari Pemerintah Singapura.

Sekarang, Purnawirman tengah duduk di bangku kuliah di Nanyang Technological University Singapura. Pemerintah Singapura menanggung seluruh biaya pendidikan pemuda berotak encer ini. Tidak cuma jaminan beasiswa, malah Singapura menjamin masa depannya dengan memberikan pekerjaan yang layak buatnya. Siswa asal Riau yang berprestasi itu kini menjadi aset pemerintah Singapura.

Malah Pemerintah Singapura telah mengajak Purnawirman untuk menjadi warga negaranya. Dikabarkan, pemindahan menjadi warga negara Singapura itu masih dalam proses.


Malah Disalahkan

Anehnya, sikap Purnawirman yang pindah ke Singapura ini malah disalahkan oleh Pemprov Riau. Dia dituding tidak melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah atas kenginannya selama ini.

"Wartawan jangan tanya soal itu sajalah. Siswa itu tidak pernah melakukan koordinasi kepada kita, tentang apa yang dia inginkan. Kita ini cukup perhatian kok dengan siswa yang berprestasi," kata Gubernur Riau Rusli Zainal saat ditemui detikcom, usai acara menyambut kepulangan siswa asal Riau peraih mendali emas dalam Olimpiade Fisika di Singapura tahun 2006, Senin (24/7/2006) di Gubernuran Jl Diponegoro, Pekanbaru.

Tidak mau disalahkan begitu saja, Rusli Zainal sangat menyangkan sikap Purnawirman yang saat ini menjadi aset Singapura itu. Menurut Rusli, jika saja ada koordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal beasiswa, pihaknya akan menyediakannya. "Tapi kan dia memang tidak koordinasi dengan kita," sesal Rusli Zainal.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Moh Wardan, ketika diminta komentarnya, juga menyalahkan Purnawirman. Dia juga menuding siswa itu tidak pernah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan.

"Ya kalau dia mau pindah dan dibiayai pemerintah Singapura, itu kan hak dia dan kita tidak bisa melarangnya. Lagipula tidak cuma dia yang mendapat beasiswa dari negara asing. Banyak siswa Indonesia yang juga disekolahkan pihak asing," katanya enteng.

Lantas benarkah Purnawirman akan menjadi warga negara Singapura? Wardan belum dapat memastikan hal itu. "Saya belum tahu persis apakah dia akan pindah menjadi warga negara Singapura. Tapi menurut hemat saya, hal yang biasa seorang pelajar berprestasi dibiayai pemerintah asing," kata Wardan.

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Mengganti Template Blogger

Blog adalah ibarat rumah kita, dan tentunya kita ingin blog tersebut tampil menjadil lebih cantik dan indah. Banyak cara yang dilakukan untuk membuat blog menjadi lebih cantik, diantaranya dengan menambah pernak pernik dan juga dengan mengganti tampilan/template blog. Jika kita mengganti template dengan template yang sudah disediakan blogger maka itu adalah cara yang paling mudah, tinggal pilih simpan langsung jadi. Namun template yang disediakan sangat sedikit dan tampilannya juga standar, sehingga kita seringkali mencari template lain yang lebih cantik, karena sekarang banyak sekali situs-situs yang menyediakannya dengan gratis. Namun jika kita menganti template dengan template lain yang disediakan oleh selain blogger, maka itu tidaklah semudah sebagaimana dengan menggunakan template yg disediakan blogger, karena ada beberapa efek sampingnya, diantaranya yaitu kamu akan kehilangan element2 kamu ato malah blog kamu jadi rusak. Nha berikut ini akan aku jelaskan hal-hal apa aja yang harus diperhatikan jika kamu pingin ganti template dengan jasa lain.

Pertama kamu harus membackup dulu tempalte kamu jika template baru kamu tidak berhasil diinstall, caranya masuk ke menu "Template --> Edit HTML", trus klik link bertuliskan "Download Full Template" terus simpan file yang diberikan.

Kedua yaitu membackup elemen-elemen atau widget-widget yang sudah pernah kamu pasang, caranya gini, Masuk ke menu "Page Element", nha disitu kan banyak tuh element-element yang udah kamu pasang trus dibawahnya kan ada link bertiliskan "edit" klik link-link tersebut satu persatu, copy isi dari elemen itu dan taruh dalam notepad. Kalo kamu nanti dah ganti template dan mau memasang elemen-elemen tersebut tinggal copy dari notepad terus pasang di "add page elements".

Ketiga, jika template dan elemen-elemen sudah kamu backup langkah selanjutnya yaitu mengupload template yang sudah kamu download. Biasanya file template yang di download berextenxi "xml" tapi kadang-kadang ada juga yang berekstensi "zip atau rar", kalo begitu kamu harus mengekstraknya dulu sehingga kamu akan mendapat file berekstensi "xml". Trus gini cara ngaploadnya, Kembali ke menu "Edit HTML", trus disitu kan ada tombol "brows" klik tombol tersebut terus cari file template yg pingin kamu pakai sudah kamu download, trus klik tombol :upload".

Keempat, biasanya kamu akan mendapat konfirmasi seperti gambar dibawah ini, itu artinya elemen-elemen kamu akan dihapus. Klik tombol "Confirm & Save"Kelima, jika ternyata yang muncul adalah seperti gambar dibawah ini maka itu artinya ada yang tidak beres dengan template kamu dan kamu tidak bisa memakai template tersebut di blog kamu, jadi kamu ganti aja dengan template yang lain.Keenam, coba preview blog baru kamu, merasa sudah cocok ikuti langkah ketuju. Jika kamu mendapati ada gambar header yang sebelumnya kamu pake buat header masih muncul di template baru kamu dan posisinya sepertinya tidak cocok, maka kamu harus menghilangkannya dulu gambar header tersebut, caranya masuk kembali ke menu "Page Element", dibagian header coba kemu edit dan hapus gambar kamu. Jika di bagian header tidak ada link "edit" coba kamu ganti dulu templatenya dengan template yang disediakan oleh blogger dan kembali ke "Page Element" trus "edit dibagian header dan hapus gambar header kamu kemudian ikuti lagi langkah-langkah ketiga

Ketuju, Kembalikan elemen-elemen yang sudah kamu backup tadi sehingga kini kamu memiliki template baru dan elemen-elemen yang dulu tidak ilang.